Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

istockphoto.com
source: istockphoto.com

Sebelumnya,
pagi adalah deru napas memburu manusia,
yang macet di lampu merah perempatan sempit, penuh peluh dan umpatan klakson.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Continue reading Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

Advertisements

Sederhana

Sesederhana hubungan sebuah pena dan sebuah kertas,
milik seorang penulis.

Mereka saling melengkapi.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..

sesederhana seorang penulis yang ingin menulis,
tapi kehabisan kertas dan pena.
Dia harus punya kertas, maka dia mencari.
Dia harus punya pena, maka dia juga mencari.
Dan penulis,
kemudian menulis dengan pena dan kertasnya. 

Yang saling mengisi kekosongan.

(17 Maret 2013)
****
Tadinya mau mencari catatan kuliah semester awal ditumpukan kertas-kertas dan buku-buku, tapi malah nemu blocknote kecil dan tulisan nggak jelas diatas. Dalam rangka buat menuh-menuhin blog, tulisan ini saya posting. Sekian. *halah

pada sebuah jeda antara bosan dan lupa

Untuk Microsoft Word:
Cinta adalah selembar halaman kosong Ms Word.
Aku adalah jari, kamu adalah pointer.
Yang diantara kita tidak ada yang berani memulai cerita.

Untuk Winamp:
Pada playlist lagu di winamp yang berulang-ulang.
Ada sela kosong.
Sebuah jeda.
Antara detak hidup bergantian. Sebagai sunyi. Menjadi puisi.

Untuk Corel Draw:
Not Responding diam tak bergerak.
Tapi cinta: lebih diam daripada malu, lebih beku daripada kaku.

Untuk mengakhiri semuanya:
Tidak ada kelegaan melebihi save-close pada setiap pekerjaan lepas tengah malam.
Kecuali sosok dirimu pada setiap pertemuan, lepas jiwaku.

    ***

puisi? sajak? lirik? syair? entah apa nama ocehan diatas, yang jelas semuanya ditulis pada saat pekerjaan di Ms Word dan Corel Draw sedang macet, kemarin malam. Macet dalam arti sebenarnya dan macet karena sudah bosan.

Lalu, lebih tepatnya mungkin bisa disebut “puitwit” seperti kata Joko Pinurbo. Kenapa? karena nulisnya di twitter dan isi maksimal 140 karakter.

Tapi apapun itu, nikmati saja bosanmu, biar lewat mengalir sampai menjauh dan tidak terlihat lagi. Halah.

    ***

Untuk-mu: 
Jika selamat pagi adalah dirimu.
Aku seperti dering bel sekolah yg nyaring tepat jam tuju.
Selalu ada dirimu disetiap sapa murid pada guru.

Magelang, 27 Agustus 2014
menjelang dini hari

pada sebuah simpangan ingatan

keabadian kelam
dalam sunyi
seperti sepotong keresahan
saat senja sedikit bercahaya
aku sendiri
memangku keraguan
pada simpangan sepi menghijau
dijalan pulang menuju ingatan
rumah hatimu
senja semakin menampakkan kuasanya
ya, pada akhirnya kelam dan sunyi
seperti biasa
pada keresahan seorang diri
masih menunggu kelam benar-benar sunyi, untuk apa?
tetap sendiri..
pulangkah pada keraguan masa lalu?,
atau tetap berjalan?
meniti setiap tapak langkah
walau senja kelam dan sunyi
dan di simpanganmu yang kelam mengaburkan arah, yang pada akhirnya tujuan
“ah, lebih baik tetap berjalan, pelan”
Kataku, meyakinkan diri
walau arah jalan masih kelam, tapi suatu pagi pasti akan menerangi nanti
“berjalan adalah masalah waktu, dan kesabaran langkah”
walau senja, kelam
perjalanan tetap perjalanan, harus di tempuh
biar dituntun oleh kunang-kunang keyakinan
dan dibimbing batu pijakan pengharapan
sampai suatu pagi akan datang nanti

30 Desember 2012

nggak sengaja nemu ini..

nemu buku tulis SMA.. ada tulisan ini..


Berjajar diantara jalanan basah, ranting-ranting patah, dan guguran daun
Dalam hujan malam
Aku lah kerinduan, mengadu pada awan
“bisikkan sesuatu pada mendungmu!!” Kataku

Malam..
Akulah malam,
Suatu saat akan membisikkan yang sama pada kerinduan
Kesunyian dalam kesendirian-lah,
kerinduan abadi
(21-12-2009)