Menghilang ke Semeru (Bagian I): Merencanakan perjalanan

“I read somewhere… how important it is in life not necessarily to be strong, but to feel strong… to measure yourself at least once.”  ― Jon Krakauer, Into the Wild

Wacana gila berangkat ke Semeru sendirian berawal dari kegelisahan saya setelah rencana mendaki ke gunung Slamet pada libur lebaran batal karena minim personel yang mengiyakan ajakan. Dari beberapa orang yang masuk list (saya, Anggoro, Ali, Iqbal, Joko, Boweng, Lulut, Imam, Aji), hanya saya dan Anggoro yang bisa, itupun karena yang punya inisiatif kita berdua. Terpaksa rencana ke Slamet harus dibatalkan.

Continue reading Menghilang ke Semeru (Bagian I): Merencanakan perjalanan

Advertisements

Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga

Candi-candi atau situs peninggalan yang berada di Dataran Tinggi Dieng selalu menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjunginya. Apalagi kalau bukan mistisisme bangunan-bangunan tua dan bersejarah tersebut saat tesamar kabut menjelang senja dengan latar berupa lereng pegunungan tua. Ditambah udara yang dingin, perasaan juga akan terbawa suasana ini, mistis dan gloomy.

 Candi Arjuna, Dieng
Tapi Dieng tidak melulu soal Candi Arjuna nya saja, juga Telaga Warna, ataupun kawah-kawahnya. Beberapa tahun belakangan, puncak-puncak di Dieng yang juga menjadi penyangga bagi keberadaan dataran tinggi Dieng menjadi ramai. Dan yang paling banyak dikunjungi, tentu saja puncak Prau. Puncak paling tinggi di dataran tinggi tersebut.

Continue reading Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga

Ke Merapi Berdua

RENCANA
Sekitar bulan Maret, beberapa teman saya berangkat ke Sindoro. Gunung yang selain letaknya tidak jauh dari Sumbing, juga sama-sama lumayan ekstrim. Waktu itu saya nggak bisa ikut karena ada janji nonton Banda Neira tepat di hari keberangkatan mereka. Sedih memang, tapi ya ngga papa, besok lagi maasih bisa pikir saya. Atas dasar ketidak-ikutan itulah, seminggu setelahnya saya mulai lempar wacana ke beberapa teman yang kemarin belum sempat ikut Sindoro. Saya mengira-ngira, paling tidak tiga-empat orang pasti mau.
 
Tapi, dari beberapa yang saya ajak; Boweng (yang ikut ke Sumbing taun kemarin), Joko (yang waktu itu lagi persiapan mau ujian skripsi+yudisium), dan Imam, cuma Imam yang sepertinya paling bisa berangkat. Boweng punya alasan cuaca lagi jelek dan banyak badai, Joko mau yudisium, sedangkan Imam paling lemah argumentasinya (ujian skripsi masih embuh, kuliah nggak seminggu penuh, dan belum mulai penelitian).
 

Continue reading Ke Merapi Berdua

Antara Jogja-Cemoro Sewu, Selama 13 Jam

Rabu malam pukul 20.00, 18 Februari, teman saya bertanya saya mau kemana kok tiba-tiba membatalkan rencana mengerjakan kerjaan yang sudah hampir deadline. “Edan, ra mikir tenan!!” teman saya berkata, begitu saya menjawab mau ke Cemoro Sewu (gunung Lawu). Mungkin dikiranya mau mendaki lagi atau gimana. Teman saya ini tidak salah ngomong, dengan waktu yang sehari itu, kelihatannya saya nekat banget main ke Cemoro Sewu pakai angkutan umum (kereta, bis, dan angkot). Saya memang gila. Atau lebih tepatnya kita (karena saya bawa pacar saya) dan yang ngajak harus hari itu juga dia.

 
ini tempat tujuannya


Baiklah, anggap saja kita sama-sama gila, dua orang yang sama-sama gila.
 

Continue reading Antara Jogja-Cemoro Sewu, Selama 13 Jam

Ke Gunung Sumbing, Mimpi selama KKN, dan Mbah Gesang

Nggor.. aku wis ra kuat nggor, sikilku wis raiso dinggo mlaku..gendong aku nggor” (Mbah Gesang, sepuluh meter turun dari pos satu) 

***

Rabu pagi tanggal 1 Oktober 2014 jalanan disekitar kampus UNY dan beberapa tempat fotokopian terlihat lebih ramai dan sibuk dari biasanya. Semesta setuju, penyebabnya adalah deadline pengumpulan laporan KKN yang berakhir hari itu.

Huru-hara dan kesibukan juga memburu beberapa diantara kita; sekelompok mahasiswa pura-pura yang juga baru saja menyelesaikan KKN beserta laporan dengan segala kepalsuan dan manipulasi didalamnya. Saya yang baru menyelesaikan laporan tersebut malam sebelumnya juga terpaksa ikut ambil bagian dalam huru-hara ini. Ngantri ngeprint, jilid, dan mengumpulkan laporan KKN.

Continue reading Ke Gunung Sumbing, Mimpi selama KKN, dan Mbah Gesang

Merbabu, 17 Agustusan, dan Pendakian Pertama Mereka

…”Hidup mahasiswa! hidup mahasiswa Indonesia!!!”…

Slogan ini terdengar khas saat diteriakkan secara bersama-sama. Saya selalu bisa merasakan getaran dan semangatnya ketika mendengar kemudian menirukan teriakan ini dulu pas OSPEK. Walaupun sebenarnya saya juga tidak tau betul apa arti slogan ini.

“Hidup mahasiswa”.. apakah sekarang ini mahasiswa sedang mati tidak bergerak, sehingga perlu ditegaskan kalau mahasiswa ternyata masih hidup. Meskipun keberadaannya tidak begitu terlihat dan terasa seperti angkatan 66 atau 98 dulu. Entahlah, hipotesis yang ngawur dari saya. Continue reading Merbabu, 17 Agustusan, dan Pendakian Pertama Mereka

Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 2-

Apa yang membuat perjalanan menjadi begitu kuat untuk diingat dalam waktu yang lama?

Seorang teman pernah bertanya seperti itu ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Madura ketika praktek lapangan selama lima hari.. lalu seorang teman lain menjawab: “setiap perjalanan itu spesial kalau kita bisa merasakan setiap hal kecil yang terlewatkan, karena selalu ada cerita berbeda disetiap momen kebersamaan”.. Continue reading Empat Hari Terjebak Bersama (cerita nggembel ke Lawu) -part 2-