Banda Neira hilang, dan tidak akan berganti

Beberapa bulan lalu saya terlibat obrolan dengan teman (cewek) via whatsapp, teman saya ini sedang berada di kota berbeda. Saya lupa gimana awalnya, tiba-tiba kami mulai membicarakan Banda Neira, band yang sama-sama kami sukai. Saat itu Banda Neira sedang vakum karena Rara Sekar melanjutkan kuliah di New Zaeland, sedangkan Ananda Badudu tetap di Indonesia, tetap jadi jurnalis Tempo.

“Banda Neira udah mau bubar tuh kayanya.. si Nanda sakit ati ditinggal nikah sama Rara”.

“iya, kasian sih, diajari main musik, diajak bikin proyek duo, tetep difriendzone juga, bertaun-taun pula, sampe ditinggal nikah.. bangsat emang”

“hahaha, lagian susah kali udah kaya gitu, udah terkenal mau pacaran apa gimana kan susah”…

“lah Endah N Rhesa malah suami istri, sampe sekarang masih ada, gimana tuh”…

“iya sih ya”.

Ya, begitulah gibah kami soal Banda Neira, candaan tidak penting yang tidak akan diseriusi, segera hilang dan lupa. Tapi siapa sangka, hampir setaun setelah itu Banda Neira benar-benar menyatakan diri bubar. Tentunya alasan mereka bubar tidak seabsurd itu.

Mungkin kita masih bisa mendengar lagu-lagunya di playlist, masih bisa mengakses video-video live perform mereka di youtube, atau masih bisa gitaran sendiri lagu-lagunya. Tapi tidak ada yang menyangkal efek yang ditimbulkan dari kenyataan bubarnya Banda Neira: sedih.

Kenyataan bahwa hanya akan ada dua album dengan beberapa track di masing-masing albunya, tidak lebih dan tidak akan bertambah lagi, membuat kesedihan itu tambah pekat. Biarkan saya berlebihan soal ini, Banda Neira memang sentimentil bagi saya.

Se sentimentil penggalan reffrain brengsek

“seperti hadirmu, di kala gempa,

jujur dan tanpa bersandiwara,

teduhnya seperti hujan di mimpi.. berdua, kita berlari”

dengan denting petikan gitar maha oke nya, yang diplay bersama orang yang (waktu itu) dicintai di tengah-tengah perjalanan menuruni bukit yang berkabut dan sedikit gerimis, dibawah payung kecil, sambil berusaha menirukan ajaibnya mereka berdua bergantian bernyanyi.

Atau menonton konser mereka untuk pertama dan terakhir kalinya dibawah hujan deras, saya dengan orang yang sama, dan Banda Neira dengan lagu yang masih sama juga, ajaib. Banda Neira sangat dekat dengan kehidupan saya tiga tahun belakangan ini. Seolah-olah setiap lagunya adalah soundtrack yang menjadi backsound apapun yang sedang saya kerjakan. Ijinkan saya berlebihan sekali lagi.

Lalu apa yang ajaib? Silakan perhatikan lirik-lirik gubahan Ananda Badudu itu semua, boleh diulang-ulang, karena mendengarkan Banda Neira memang tidak cukup sekali. Yang anda dengar itu adalah susunan kata kelas premium yang seharusnya ada di buku puisi-buku puisi laris. Ananda Badudu membawa musik Indie folk (yang menurutnya) setengah serius ke level yang lebih tinggi. Tiap lagu ciptaannya adalah puisi bercita rasa luhur yang dimusikalisasi dengan sama baiknya, oleh dia sendiri.

Soal musikalitas? Benar bahwasannya selera musik adalah persoalan individu setiap pendengarnya yang tidak bisa dikomparasi secara adil, tapi manusia macam apa yang akan mendengar Banda Neira kemudian menstop lagunya di tengah sambil memaki penuh benci. Saya bertaruh, orang yang seperti itu hanya akan ditemui di Rock Bottom, kota tetangga Bikini Bottom yang konon tidak berpenghuni.

Seolah-olah lagu-lagu Banda Neira selalu sederhana, dengan instrumen yang minim, padahal tidak begitu. Menemukan mood dan komposisi yang tepat dengan lirik yang sudah ada boleh jadi perkara sulit, tapi Ananda Badudu menjalankan tugasnya dengan baik. Ditambah menyederhanakannya. Semacam Einstein yang menerjemahkan teori relativitas dalam satu persamaan sederhana yang mudah diingat E=MC2.

Sedihnya mereka sudah bubar bulan lalu.

Dari Banda Neira kita belajar, segalanya bisa terjadi, semuanya bisa selesai kapan saja, begitu saja. Sering nya tidak butuh alasan logis untuk menjelaskan mengapa. Tidak semua pertanyaan beserta jawabannya, kadang sebuah pertanyaan akan lebih baik begitu saja, tetap dengan tanda tanya menggantung menutup kalimat. Tetap menjadi misteri yang kita semua ikhlas untuk tidak bertanya-tanya lagi mengapa atau bagaimana.

Seperti penggalan lirik “langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hidup, dan sesakkan jiwa”

Banda Neira baru saja bubar, tapi kenangan darinya masih akan menyublim, bersatu dengan partikel-partikel penyusun hidup lainnya di udara, ia akan kita hirup sehari-hari, selamanya, sampai tua nanti sampai kita jadi debu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

buruh harian lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s