Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

istockphoto.com
source: istockphoto.com

Sebelumnya,
pagi adalah deru napas memburu manusia,
yang macet di lampu merah perempatan sempit, penuh peluh dan umpatan klakson.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Sebelumnya,
siang adalah padang kering luas,
yang membuat pejalan tersandung-sandung.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Sebelumnya,
malam adalah gerutuan si tua soal harinya,
dan sisa napas lelah pekerja di ranjang tua.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Dan saya adalah penanda tangan pertamanya..

(Desember, 2015)

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

mantan ketua panitia lomba balap karung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s