Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

istockphoto.com
source: istockphoto.com

Sebelumnya,
pagi adalah deru napas memburu manusia,
yang macet di lampu merah perempatan sempit, penuh peluh dan umpatan klakson.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Sebelumnya,
siang adalah padang kering luas,
yang membuat pejalan tersandung-sandung.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Sebelumnya,
malam adalah gerutuan si tua soal harinya,
dan sisa napas lelah pekerja di ranjang tua.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Dan saya adalah penanda tangan pertamanya..

Lalu, kopi siapa yang kau seduh?

Ah tuan, kopiku lah..
Kubeli di warung langganan sore tadi, bareng Supiah,
gadis tetangga, manis senyumnya..
Kau yang maniak kopi pahit pun akan ikhlas kalau tiba-tiba kopimu jadi manis
Saat kau melihat senyumnya, di sela ngopi pagimu yang daily habbit itu..

Kau tiap hari beli kopi, padahal katamu kau ini kelas pekerja..
Dari mana kau punya uang buat beli kopi tiap hari?

Dengar pak tua,
aku memang cuma pekerja, buruh!
bayaranku sepersepuluh volume keringatku,
kadang ditunda, kadang dipotong dana sosial yang entah untuk apa

Tapi soal bayaranku mau buat apa,
bukan urusan siapa-siapa kecuali aku
dan pacarku
dan tagihan kredit-kreditku
dan BPJS ku
asu

Lagian, ngopiku untuk melupakan masalahku sebentar,
lima belas menit saja..
Sudah itu harus bergelut lagi dengan mesin produksi,
atau entah target penjualan dan banyak lagi

Sesekali anggur merah jadi selingan,
kalau kopi sudah tidak terlalu membikin ringan.

Anak manusia bodoh, tunngu dulu!
bukankah kau ini buruh pabrik kopi yang kau seduh ini?
lalu mengapa masih beli lagi?

Hey, kau yang bodoh itu!
aku buruh, tugasku mengepak kemasan plastik kopi itu
aku tau, kopi-kopi itu datang dari petani
harganya cuma seperlima harga kopi di warung
pada setiap bungkusnya, ada keringatku dan ribuan temanku

Tapi aku cuma buruh,
setelah jam kerja selesai, pulanglah aku
setelah tanggal gajian, dibayarlah aku
setelah rusah tenagaku, dibuanglah aku

Kopi-kopi itu memang hasil kerjaku, tapi aku cuma buruh
barang-barang diproduksi melalui tanganku dan teman-temanku
tapi mana bisa aku menyicip kopi hasil kerjaku barang sejumput saja?!

Padahal,
kupikir-pikir kopi itu tidak sampai seribu nilainya
lalu di warung dihargai lima kali lipat dari itu

Aku jadi tau,
semua ini digerakkan oleh tangan setan bernama distribusi
dan dipelihara oleh sistem busuk bernama kapitalisme

Ya, kau benar manusia yang bodoh..
Sistemnya busuk, orangnya mabuk
Dan kau ada didalamnya,

Sudah itu kau tidak bisa jadi lakonnya,
cuma keroco yang akan mati paling awal
kalau dunia dan sistem-sistemnya itu diambang hancur, seperti sekarang.. apalagi kalau bukan bodoh?

Oke, oke..
Panggil saja aku si bodoh miskin yang tidak bisa apa-apa lagi,
sampai sistem ini benar-benar hancur
Lalu, kau ini siapa?

Aku.. aku ini malaikat pencabut nyawa
Kau sudah tidak tidur lima hari karena lembur menjelang akhir tahun,
Minumanmu cuma kopi dan anggur merah sesekali,
Makananmu cuma omelan atasanmu melulu,
Hirup udaramu cuma asap mesin produksi dan rokok sesekali.

Jadi, kau hendak mencabut nyawaku.. tuan?
Lalu, atas dasar apa?..

Aku datang dengan bekal pasal pertama,
dari kitab undang-undang malaikat pencabut nyawa:
Menyia-nyiakan hidup yang sudah Tuhan kasih untukmu.

Kau terlibat didalam sistem busuk kapitalis dan berpesta di dalam sana,
sistem itu awalnya kau benci, akhirnya kau mabuk di dalam sana.
Padahal kau bisa berbuat lebih baik dari itu buat dunia dan orang-orang lainnya.

Ah, sial.. tiga bulan lalu harusnya sudah kubakar pabrik itu

(Desember, 2015)

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

buruh harian lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s