Musim Hujan Telah Tiba

Musim hujan sudah tiba di Jogja. Sebenarnya tibanya hujan juga tidak baru-baru ini, kurang lebih hujan pertama datang di November kemarin. Rutinitas hujan di tiap sore baru ada beberapa Minggu ini. Tapi, baru beberapa minggu pun hujan sudah membuat susah orang-orang yang tinggal di perkotaan. Banjir, macet, banjir, angin ribut, kilatan petir yang sering menyambar antena jaringan internet atau tower sinyal. Memang, hujan ini banyak menyusahkan saja (bagi orang-orang di perkotaan).

Atau memang cuma orang-orang perkotaannya saja yang dikit-dikit ngeluh? hujan deras agak lama takut banjir, jalan jadi macet, janjian bertemu dengan seseorang bisa telat. Atau, saat musim kemarau panjang gara-gara El Nino kemarin juga mengeluh kepanasan, sudah hidup di kota di daerah tropis, kena musim kemarau berkepanjangan, bakar saja sekalian.

Padahal di desa-desa yang kebanyakan warganya punya luas sawah tiga kali lipat luas rumahnya sedang bergembira karena hujan yang ditunggu-tunggu dengan cemas itu akhirnya datang juga. Ya, bagi mereka hujan semacam bus yang datang setelah berhari-hari menunggu di sebuah halte di tengah gurun Meksiko dalam sebuah film. Melegakan sekaligus memberi pengharapan baru.

Tapi lagi-lagi, orang-orang di kota tidak menganggapnya begitu. Tetap saja hujan lebih banyak menimbulkan kesusahan daripada kebaikan bagi mereka. Sebagai sebuah kejadian yang alami, hujan ya begitu-begitu saja. Air turun dari langit lalu menumpuk di tanah, menggenang, dan di beberapa tempat membanjir karena air hujan tidak diberi tempat yang layak. Ditutup semen atau aspal.

Dalam sudut pandang kita sebagai manusia, hujan bukan lagi hanya berupa kejadian alam saja. Tidak hanya sekedar air yang turun dari langit saja. Kejadian yang alami dan netral saja. Bagi beberapa orang, hujan yang turun bisa berarti berkah karena lahannya akan kembali subur dan panen akan menyusul. Bagi seorang veteran, hujan bisa berarti sentimentil karena akan mengingatkannya pada masa mudanya, ketika berperang di bawah hujan deras bersama laskar-laskar tentara pelajar lain. Bagi orang-orang yang tinggal di pinggir sungai daerah perkotaan yang padat, hujan berarti bencana, mereka siap-siap mengungsi jika banjir menggenang lagi saat hujan di sebuah malam yang deras. Bagi sepasang kekasih, hujan bisa berarti romantis ketika mereka berjalan di bawah payung yang sama di tengah hujan sore-sore.

Bagi kita manusia, hujan bisa berarti banyak tergantung siapa yang mengalami dan apa yang dialaminya.

Namun, sebanyak apapun persepsi dan pengalaman soal hujan tetap tidak bisa mengganggu konstruksi aslinya bahwa hujan adalah kejadian alam yang alami saja. Terjadi karena proses hidrologi yang sudah dimulai sejak awal pembentukan bumi milyaran tahun yang lalu. Proses yang menjadi dasar terciptanya kehidupan dibumi. Sepanjang keberadaan dan kehidupan bumi dan alam semesta, hujan akan tetap turun.

Senin siang kemarin saat pemakaman nenek saya, hujan turun rintik-rintik. Bagi saya, hujan Senin siang di pemakaman itu menyadarkan saya lagi, bahwa kematian begitu dekat dengan siapa saja yang masih hidup. Dengan saya juga.

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

buruh harian lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s