Setelah Ini Apa Lagi?

Saya pernah terlibat obrolan kecil dengan seorang bapak-bapak penjual koran dan majalah di daerah Cebongan yang jadi langganan bapak saya beli koran dan sesekali beli tabloid Bola (bapak saya tiap hari beli koran tapi herannya tidak pernah berlangganan langsung). Obrolan tersebut terjadi pertengahan tahun 2014 lalu, sebelum pilpres.

Pagi dihari Sabtu itu, saya mampir ke kiosnya untuk membeli koran biasanya, pagi itu saya baru selesai bersepeda dan sudah berencana mampir sebelumnya. Karena memang sudah mendung, hujan turun juga tepat sebelum saya pergi. Terpaksa saya neduh dan numpang baca koran disitu, sambil diajak ngobrol bapak-bapak yang enteng suara dan cerita ini. Ya, saya juga heran kok ya tiba-tiba ingat hal ini..

“Itu saya baca tadi mas, ada dua tim sukses presiden, gara-gara beda pendapat di apa tadi.. titter, njuk ngajak duel langsung diluar… lha kok ya dilayani sama yang satunya, ya jadinya duel beneran mereka..” Si bapak mengarahkan mata saya ke berita yang diceritakan barusan.

“Di twitter itu pak paling.. iya, saya juga sudah baca di twitter juga kemarin. Lumayan kan pak, jadi tambah gayeng, biar nggak njelehi pemilunya. Yang seru gini aja orang-orang belum mesti pada nyoblos, apalagi kalo sepi-sepi aja….” Kata saya setengah tertawa.

“Emang pemilu sekarang aneh-aneh kok mas, beda sama jaman dulu. Jaman dulu tertib-tertib. Nggak ada yang neko-neko bikin debat apa serang-serangan di media kaya sekarang ini… soalnya nggak berani.”

“Lha nggih pak, jaman dulu kalo berani macem-macem pasti paginya njuk ilang.. ya repot.”

“Tapi jaman dulu nggak kayak sekarang ini, dikit-dikit rame, apa-apa jadi berita. Kayaknya masalahnya nggak habis-habis mas.”

“Wah namanya juga jaman modern pak, kan sekarang bebas sama berita gampang menyebar lewat internet.”

“Lalu habis rame-rame pemilu-pemiluan ini terus apa lagi yo mas…”

Belum sempat saya menjawab, hujan reda. Demi menghindari hujan turun lagi, saya bergegas pamit pulang sambil berlalu. Sepanjang kayuhan sepeda dalam perjalanan pulang, saya masih terngiang-ngiang pertanyaan si bapak yang tidak syaa ketahui namanya itu; “mas, setelah pemilu-pemiluan ini terus apa lagi ya?”.. Setelah hingar-bingar, euforia, gegap gempita ini terus apa lagi?

***

Waktu berjalan cepat dan berlalu. Sampai pada beberapa hari setelah saya lulus dan dapat gelar sarjana, pertanyaan bapak di kios koran muncul kembali dalam ingatan yang utuh. Bukan pada pemilu nya, tapi pada pertanyaan setelah semua ini terus apa lagi?

Baiklah, mari kita sepakati bahwa masa kuliah adalah “buku, pesta, dan cinta” seperti yang dikatakan Soe Hok Gie dan Pak Gunardo dosen Biogeo saya. Bagi sebagian orang, masa kuliah memang untuk merayakan slogan pesta dan cinta secara hingar-bingar, gegap gempita secara khusyuk. Makanya semakin menuju akhir pun pesta semakin riuh, puncaknya saat upacara perayaan wisuda.

Tapi toh, saya minim sekali merasakan pesta. Saya lebih banyak berkutat pada buku, dan sesekali bermain-main dengan cinta, walau lebih banyak dimainkannya.. hvft.

Sebenarnya bagi (kebanyakan) mahasiswa kelas menengah menuju proletar seperti saya, pertarungan terbesar dalam masa kuliah adalah pertarungan melawan keseharian yang monoton. Lima hari dalam seminggu menghadapi kuliah yang begitu-begitu saja, sesekali bolos. Tiap hari menuju ruang yang itu-itu juga, jalannya itu-itu lagi, bertemu teman yang ini-ini lagi (tapi sumpah, saya nggak pernah bosen dengan teman-teman saya), mengerjakan tugas lagi, lalu kerja lagi, nulis lagi, ndesain lagi, mikir peluang nyari sampingan buat uang jajan lagi.. eh, tau-tau lulus.

Lalu, bosankah saya?..

Tidak juga. Keberadaan teman-teman beserta aktivitas-aktivitas ajaib dengan mereka membuat saya kuat dan berhasil memenangi pertarungan-pertarungan melawan keseharian saya. Diantara keseharian-keseharian atu kebosanan itu, selalu ada titik-titik yang menyegarkan. Bagaimana menerima keseharian sebagai sesuatu yang wajar dan maklum, lalu mengolahnya sebagai bahan tertawaan yang tetap menyehatkan dan tentu saja, menyegarkan.

Disela-sela kuliah yang gitu-gitu saja, kita juga tidak pernah lalai buat duduk-duduk dikampus selesai kuliah, sambil nunggu cewek-cewek jurusan lain sliweran di koridor kelas atau sekitaran taman-taman kampus. Lalu berlanjut ke angkringan atau warung biasanya buat ngopi dan menghabiskan sebatang-dua batang rokok sambil ngobrol apa saja, dengan bumbu cuci mata lihat cewek sliweran tentu saja.

Di banyak malam yang selo, remi, pokeran, dan gaple di kontrakan atau di tempat nongkrong langganan adalah simbol kekentelan pertemanan, siapapun yang menolak ajakan keluar, pasti pertemanannya tipis dan sudah tidak bisa diharapkan lagi. Dan kalau pas lagi punya duit lebih, kita juga sering naik gunung dan main-main sok backpackeran.

Semua itu demi menjaga keseimbangan sebagai manusia yang butuh hiburan disamping kerja dan belajar yang melelahkan.

Setelah mengalami pertarungan-pertarungan kecil, bagi mahasiswa seperti saya dan teman-teman saya, menyelesaikan skripsi dan berhasil lulus jadi sarjana boleh jadi adalah pertarungan terakhir yang paling mematikan. Riuh, hingar-bingar, gegap gempita, dan hidup mati.

Sampai kita nyaris lupa bahwa setelah riuh, hingar-bingar, gegap gempita, dan hidup matinya menyelesaikan skripsi dan berhasil lulus, kita lupa mempersiapkan diri untuk terus berjalan seperti biasanya setelah ini.

Setelah ini, terus apa lagi ya?

Pertanyaan ini selalu muncul setelah saya lulus. Apakah saya harus meninggalkan keseharian-keseharian lama saya dulu, keseharian yang sudah membantu memenangkan pertarungan-pertarungan kecil saya selama ini. Menjaga keseimbangan dalam ritme kehidupan saya.

Sampai saya sadar, pertarungan-pertarungan kecil sehari-hari jauh lebih besar daripada pertarungan besar yang riuh, hingar-bingar, dan hidup mati. Bisa jadi yang paling menentukan adalah pertarungan kecil sehari-hari ini, pada hari-hari biasa yang tak terhitung jumlahnya, yang tak terhitung membosankannya nanti.

Yang akan menang adalah yang bisa menaklukkan keseharian-keseharian ini. Memenangkannya bukan dengan satu perang yang besar dan berdarah-darah. Tapi dengan konsistensi yang solid dan seimbang.

***

Kemarin sore saya mampir ke kios koran yang waktu itu saya tumpangi buat neduh. Saya tidak tau apakah si bapak masih ingat saya dan obrolan waktu itu atau tidak. Tapi, saya cuma mau menjawab pertanyaannya sekarang;

“habis ini ya tidak kenapa-napa pak, kita masih hidup seperti biasa, bapak masih menjual koran dan menjadi penyambung kabar dari pembuat berita ke pembaca. Seperti cerita-cerita kecil bapak pada pembeli-pembeli lain lain selain saya.”

Cerita-cerita kecil yang diceritakan oleh orang biasa, yang butuh perjuangan untuk bertarung melawan keseharian-keseharian mereka dengan segala konsistensi dan kesetiaan mereka pada hal-hal kecil untuk hal-hal yang lebih besar kelak.

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

mantan ketua panitia lomba balap karung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s