Jalur Sutera yang Sekarang Jadi Remukan Peyek

Jika anda adalah warga asli sekitaraan antara daerah Blabak Magelang sampai Selo Boyolali, atau kalau bukan warga asli aktivitas anda berkutat di daerah tersebut, dan kalau bukan keduanya, tapi sering melewati daerah tersebut terutama akhir-akhir ini, bisa dipastikan pernah melewati dan tau kondisi terkini jalan lintas kabupaten Magelang-Boyolali.

Ya, kondisi jalan yang juga jalur sutera bagi truk-truk penambang pasir dari lereng Merapi bagian utara karena cuma satu-satunya jalan utama yang menguhubungkan daerah tersebut ke kota Magelang maupun kota Boyolali tersebut belakangan ini rusak parah hampir di sepanjang jalan. Sebagian besar bagian nyaris hancur total dan hanya menyisakan lapisan paling bawah yaitu kerikil-kerikil kecil, mirip remukan peyek. Dan di beberapa titik, tidak ada lagi sisa aspal maupun lapisan kerikil, tinggal jalan tanah saja yang jika hujan akan jadi kubangan lumpur.

Mungkin kita bisa maklum apabila jalan yang kondisinya seperti itu ditemukan di daerah pertambangan atau perkebunan di Kalimantan. Tapi, mana bisa kita merasa maklum dan wajar dengan kondisi seperti itu jika terjadi di jalur penghubung utama dua kabupaten di Jawa Tengah. Selain terdapat aktivitas pertambangan yang bernilai ekonomi tinggi, disana juga terdapat aktivitas pertanian dan perkebunan khas pegunungan berikut distribusi keluarnya yang menjadi penopang utama perekonomian warga.

 

24 Jam, Nonstop

Sabtu, 7 Desember lalu saya berencana mendaki Merapi tik-tok (naik langsung turun). Saya, Lulut, dan Anggoro (dua teman militan) berangkat dari jogja jam tujuh malam dengan estimasi lama perjalanan sekitar dua jam, tentu saja kita tidak tau kondisi terkini jalan yang akan dilalui nantinya. Menjelang percabangan arah Ketep dan Selo, diberlakukan buka tutup jalan karena ada pengecoran jalan yang baru jadi setengahnya. Tidak tanggung-tanggung, panjang jalan setengah ini sekitar dua kilometer.

Setelah percabangan arah Ketep-Selo jalan remukan peyek yang sesungguhnya baru dimulai. Lubang-lubang yang sudah sampai lapisan paling bawah, kerikil-kerikil yang bercampur pasir, dan genangan-genangan air adalah hal biasa di sepanjang jalan. Beruntungnya malam itu truk pasir yang lewat bisa dibilang sedikit, biasanya iring-iringan truk-truk pasir ini macam gerbong kereta, tidak putus-putus.

Karena malam itu hujan, di beberapa tikungan diberlakukan buka tutup jalan, truk-truk harus bergantian melewati tikungan yang menyempit ini. Kendaraan lain mau tidak mau juga harus mengikuti peraturan ini.

Setelah berjuang hampir dua jam penuh melewati remukan peyek, akhirnya kita sampai Selo tepat jam sebelas malam. Sebelum berhenti di basecamp Barameru, kita sepakat buat mampir dulu di salah satu warung buat makan malam sebelum numpang tidur di basecamp. Agak heran juga, baru jam sebelas malam, jalan masih ramai, truk-truk masih banyak yang parkir tapi warung makan cuma sisa satu yang buka.

Kita makan disitu bareng sopir-sopir dan penambang pasir yang punya misi sama malam itu; mengisi perut kosong dan dingin!.. saya sempat ngobrol dikit dengan sopir truk yang masih lumayan muda dibanding sopir-sopir lain. Dimulai dengan meminjam korek, saya tanya “ini biasanya sampai jam berapa to mas ramai-ramainya?” sambil menunjuk truk-truk di luar. “sampai jam berapa gimana mas? Wong ini itu nggak ada berhentinya kok, kita ini cuma berganti-ganti aja, tiap ada yang pergi juga ada yang datang, sebabnya saking banyaknya itu ya mas paling..” obrolan tidak sampai panjang karena mas sopir ini sudah buru-buru berangkat turun.

Selesai makan, saya menemukan kejadian yang paling ditakutkan malam itu, ban motor saya bocor. Berhubung sudah tidak ada lagi tambal ban yang buka, motor saya titipkan ke polsek Selo. Selain aman, juga menghemat lima ribu perak dibanding parkir di basecamp.

***

Minggu jam dua siang, setelah turun dari Merapi, saya langsung bergegas ke Polsek Selo mengambil motor dan ke tambal ban yang berada di depan Polsek, di samping warung makan semalam. Bengkel dan tambal ban depan polsek ini ramainya lumayan juga, macam cuma ada satu tambal ban saja sepanjang jalan Magelang-Boyolali. Sambil menunggu ban belakang ditambal yang waktunya masih belum bisa diestimasi itu, saya dan dua teman saya yang sudah nyusul dari basecamp mlipir ke warung sebelah lagi, nyari colokan dan kehangatan, minuman hangat maksudnya.

Kita duduk di bangku luar warung, sambil menikmati gerimis seangin-angin dinginnya. Beberapa menit kemudian kita disusul bapak-bapak yang berusia sekitar lima puluhan tahun yang duduk di lincak (kursi bambu) sebelah yang masih kosong. Rupanya bapak ini adalah pemilik warung sebelah. Setelah sedikit basa-basi, kita mulai terlibat obrolan seputar truk-truk yang wira-wiri di jalan depan tempat kita duduk.

Jalur lintas kabupaten ini memang sudah ada sejak tahun 60an, tapi baru diaspal sekitar tahun 71. “Dulu presiden Soekarno pernah kesini lho mas, waktu itu saya masih kecil, jalan belum diaspal, dan yang ada disini baru beberapa rumah.” Si Bapak memulai cerita yang menurut saya cukup luar biasa, seorang Presiden pernah kesini!. “rumah-rumah dan kampung-kampung sekitar sini baru semua, kebanyakan ada setelah jalan ini mulai ramai.” Tambahnya.

“Lalu, kalau penambangan pasir ini gimana pak?”

“Wah, kalau tambang dan truk-truk ini sih baru sepuluh tahun ini ramai, dulu nda ada yang seperti ini. Jalan ini baru beberapa tahun ini jadi seramai ini, dulu misal ramai ya cuma mobil-mobil angkutan sayuran sama orang-orang yang mau ndaki aja mas.”

“Ini setiap hari ramai terus ya pak?”

“Wo iya mas.. dua puluh empat jam tiap hari, truk-truk ini tidak pernah berhenti. Kalau malam-malam ada truk yang papasan di jalan rusak, biasa kalau mereka sering hampir ribut gara-gara tidak ada yang mau ngalah, ya kalau malam siapa mas yang mau ngatur jalan, nggak ada kan?”

“Kalau mau nambang pasir itu perlu mengurus ijin juga nggak sih pak?”..

“mengurus ijin mas, itu wajib.. setau saya ya mas, mereka-mereka ini punya ijin semua. Kalau tidak punya ijin, tidak akan berani kesini buat nambang. Lagipula mereka ini rata-rata punya bos besar mas, jarang yang sendiri-sendiri.”

“Jadi maksudnya, ini semua legal begitu pak?”

“Ya, legal. Saya pikir legal mas.”

***

Dari obrolan yang tidak semuanya saya tulis ini, kita jadi tau bahwa truk-truk pengangkut pasir yang tanpa putus datang dan pergi dua puluh empat jam setiap hari dan jadi penyebab jalur sutera jadi jalur remukan peyek ini legal, diizinkan, dan sama sekali tidak melanggar hukum.

Soal melanggar kenyamanan, keamanan, dan kepentingan orang banyak sesama pengguna jalan Magelang-Boyolali, tentu saja tidak.

????????????????????????????????????

96130db86c751b3671c21f6d7dfb0e01_thumb

ced33bbb5213dabc02b72c7a694a963f_thumb

Sumber foto: antara.com merdeka.com kabarmagelang.com

 

Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

mantan ketua panitia lomba balap karung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s