Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

istockphoto.com
source: istockphoto.com

Sebelumnya,
pagi adalah deru napas memburu manusia,
yang macet di lampu merah perempatan sempit, penuh peluh dan umpatan klakson.
Sampai segelas kopi membuat mosi tidak percaya.

Continue reading Buruh Pabrik Kopi dan Malaikat Pencabut Nyawa

Advertisements

Musim Hujan Telah Tiba

Musim hujan sudah tiba di Jogja. Sebenarnya tibanya hujan juga tidak baru-baru ini, kurang lebih hujan pertama datang di November kemarin. Rutinitas hujan di tiap sore baru ada beberapa Minggu ini. Tapi, baru beberapa minggu pun hujan sudah membuat susah orang-orang yang tinggal di perkotaan. Banjir, macet, banjir, angin ribut, kilatan petir yang sering menyambar antena jaringan internet atau tower sinyal. Memang, hujan ini banyak menyusahkan saja (bagi orang-orang di perkotaan).

Atau memang cuma orang-orang perkotaannya saja yang dikit-dikit ngeluh? hujan deras agak lama takut banjir, jalan jadi macet, janjian bertemu dengan seseorang bisa telat. Atau, saat musim kemarau panjang gara-gara El Nino kemarin juga mengeluh kepanasan, sudah hidup di kota di daerah tropis, kena musim kemarau berkepanjangan, bakar saja sekalian. Continue reading Musim Hujan Telah Tiba

Setelah Ini Apa Lagi?

Saya pernah terlibat obrolan kecil dengan seorang bapak-bapak penjual koran dan majalah di daerah Cebongan yang jadi langganan bapak saya beli koran dan sesekali beli tabloid Bola (bapak saya tiap hari beli koran tapi herannya tidak pernah berlangganan langsung). Obrolan tersebut terjadi pertengahan tahun 2014 lalu, sebelum pilpres.

Pagi dihari Sabtu itu, saya mampir ke kiosnya untuk membeli koran biasanya, pagi itu saya baru selesai bersepeda dan sudah berencana mampir sebelumnya. Karena memang sudah mendung, hujan turun juga tepat sebelum saya pergi. Terpaksa saya neduh dan numpang baca koran disitu, sambil diajak ngobrol bapak-bapak yang enteng suara dan cerita ini. Ya, saya juga heran kok ya tiba-tiba ingat hal ini.. Continue reading Setelah Ini Apa Lagi?

Jalur Sutera yang Sekarang Jadi Remukan Peyek

Jika anda adalah warga asli sekitaraan antara daerah Blabak Magelang sampai Selo Boyolali, atau kalau bukan warga asli aktivitas anda berkutat di daerah tersebut, dan kalau bukan keduanya, tapi sering melewati daerah tersebut terutama akhir-akhir ini, bisa dipastikan pernah melewati dan tau kondisi terkini jalan lintas kabupaten Magelang-Boyolali.

Ya, kondisi jalan yang juga jalur sutera bagi truk-truk penambang pasir dari lereng Merapi bagian utara karena cuma satu-satunya jalan utama yang menguhubungkan daerah tersebut ke kota Magelang maupun kota Boyolali tersebut belakangan ini rusak parah hampir di sepanjang jalan. Sebagian besar bagian nyaris hancur total dan hanya menyisakan lapisan paling bawah yaitu kerikil-kerikil kecil, mirip remukan peyek. Dan di beberapa titik, tidak ada lagi sisa aspal maupun lapisan kerikil, tinggal jalan tanah saja yang jika hujan akan jadi kubangan lumpur. Continue reading Jalur Sutera yang Sekarang Jadi Remukan Peyek