Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga

Candi-candi atau situs peninggalan yang berada di Dataran Tinggi Dieng selalu menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjunginya. Apalagi kalau bukan mistisisme bangunan-bangunan tua dan bersejarah tersebut saat tesamar kabut menjelang senja dengan latar berupa lereng pegunungan tua. Ditambah udara yang dingin, perasaan juga akan terbawa suasana ini, mistis dan gloomy.

 Candi Arjuna, Dieng
Tapi Dieng tidak melulu soal Candi Arjuna nya saja, juga Telaga Warna, ataupun kawah-kawahnya. Beberapa tahun belakangan, puncak-puncak di Dieng yang juga menjadi penyangga bagi keberadaan dataran tinggi Dieng menjadi ramai. Dan yang paling banyak dikunjungi, tentu saja puncak Prau. Puncak paling tinggi di dataran tinggi tersebut.

Dataran tinggi Dieng, menurut legenda adalah persemayaman para Dewa –berasal dari kata Di Hyang yang dalam bahasa Sansekerta berarti Persemayaman Para Dewa, memang menawarkan keindahan yang luar biasa, apalagi jika dilihat dari atas (dari puncak Prau).

  ***

Cerita dimulai pada akhir bulan  Juni, ketika saya dan salah satu teman saya (sebut saja Boweng) kebetulan bertemu di ruang jurusan untuk menghadap dosen dan bimbingan skripsi. Waktu itu kita sudah sama-sama berharap segera di-acc untuk sidang, mengingat sudah beberapa kali revisi dan tentu saja sudah muak dengan naskah yang ada di tangan. Sebelum saya masuk, saya sempat bercanda “weng, kalo ini aku di-acc, seminggu habis ujian langsung gas Sindoro yo!”, yang disambut Boweng “siaap bos” dengan mantapnya.

Beberapa saat kemudian Boweng menyusul masuk ke ruang jurusan untuk bimbingan dengan dosen yang berbeda. Selang beberapa puluh menit, Boweng selesai bimbingan dan keluar ruangan. Sial, saya masuk duluan tapi keluar belakangan. Tapi, tidak lama kemudian saya juga keluar ruangan dan sama-sama tertawa keras-keras bareng. Yang berarti kita sama-sama sudah di-acc sidang.

Ternyata, kerumitan dan keribetan proses revisi ujian dan pendaftaran yudisium memaksa kita sejenak melupakan ide gila mendaki Sindoro di bulan puasa tersebut. Hingga, beberapa hari sebelum lebaran saat beban revisi sudah berkurang, Boweng mengirimi link berita via facebook. Beritanya adalah: semua jalur pendakian gunung Sindoro ditutup karena rentan kebakaran hutan.

Sampai pertengahan Agustus, akhirnya saya berkesempatan kembali ke haribaan Dieng lagi bersama Boweng dan 2 teman lainnya (Anggoro dan Joko), kali ini ke puncak Prau. Iya, Prau yang selalu ramai dan sangat terkenal di instagram itu. Prau adalah minor option setelah jalur pendakian Sindoro tidak kunjung buka. Dan seperti biasa, untuk menghindari keramaian, kita memilih tengah pekan tepat beberapa hari sebelum 17 Agustus.

Jumat, 14 Agustus lepas Sholat Jumat, perjalanan dimulai dari rumah Anggoro di Magelang. Menjelang petang, hujan turun lumayan deras sepanjang perjalanan Temanggung-Wonosobo yang dingin dan berkabut. Kontras dibandingkan Jogja yang panas dan kering di siang harinya. Padahal kemarau tahun ini hampir seluruh wilayah Indonesia diserang badai El-Nino, cukup aneh di sepanjang Temanggung-Wonosobo kemarin hujannya deras dan lama.

Sambil menunggu hujan reda dan untuk mengusir dingin, kita mampir di salah satu warung Mie Ongklok yang memang khas Wonosobo. Harganya lumayan murah (tapi saya lupa berapa harganya), dilihat dari apa saja yang ada didalam mangkok Mie Ongklok. Saat itu terungkap, Joko ternyata membawa beberapa buku Pramoedya Ananta Toer. Saya jadi heran, buat apa bawa banyak buku ke gunung, bakal dibaca juga tidak.. Walaupun sebenarnya saya juga bawa satu buku buat difoto diatas, tapi saya punya alasan penting untuk itu. Sedangkan alasan Joko mau dipakai buat foto-foto diatas, tentu saja.

 Hujan dan Dingin? mampirlah ke warung mie ongklok, pesan teh panas juga..

Setelah menghabiskan beberapa batang Jarum sambil ngobrol dengan bapak pemilik warung soal keberadaan pemandian air panas yang akan jadi destinasi buat mampir setelah turun,  kita numpang Sholat di Masjid seberang jalan. Beberapa puluh menit kemudian kita pamit kepada bapaknya untuk melanjutkan perjalanan menuju Prau.

Prau memang ramai, baru sampai basecamp kami sudah kebingungan mencari tempat untuk parkir. Padahal ini bukan weekend atau hari libur. Ya, beginilah resiko menjadi gunung yang punya jalur yang tidak begitu ekstrem dan cukup mudah dijangkau; menjadi tujuan bagi siapapun yang ingin mendaki gunung, yang baru mau pertama kali mencicipi rasanya mendaki maupun yang berkali-kali mendaki ke banyak gunung.

***

Ada penemuan yang cukup aneh begitu melewati jalur pendakian Prau. Entah sudah ada sejak lama atau baru-baru ini, sepanjang perjalanan sebelum pos 2, kita sering sekali melewati warung yang sebagian besar adalah juga warung makan. Ini jalur pendakian apa jalan menuju lokasi wisata ya?.. Sebenarnya keberadaan warung-warung ini tidak begitu mengganggu wongkenyataannya mereka banyak membantu pendaki-pendaki yang (sengaja/tidak) membawa logistik minim.

Yang jadi masalah adalah, saya sempat melihat tumpukan sampah menggunung di samping salah satu warung. Pikir saya itu adalah tempat pembuangan sampah dari sepanjang jalur. Ya, tempat pembuangan sampah di pinggir jalur pendakian. Sayangnya, saya tidak sempat memfotonya.

Sekitar jam 2 dinihari kita sampai di camp site yang kami tuju. Karena belum banyak berdiri tenda, kami dengan leluasanya milih tempat mepet menghadap Sindoro-Sumbing, dengan harapan bisa bebas menikmati view yang sangat terkenal ini. Benar saja, pagi hari begitu membuka tenda kita mendapati pemandangan lautan tenda yang berkerumun saling mengisi dan berperang warna, ramai sekali.

Saya bangun jam setengah enam, terakhir dari yang lainnya, jelas telat buat menikmati kedatangan matahari. Tanpa banyak cakap saya langsung buka tenda, sambil mengumpat ke yang lain tentu saja. Tapi umpatan saya sebatas di dalam tenda saja, keluar tenda mata saya langsung disambut penampakan yang memanjakan mata.

Matahari yang masih setengah muncul, menegasi garis batas langit dan cakrawala, emas menguning bertemu biru yang semakin menerang, “kombinasi yang surgawi” batin saya lebay. Paduan sinarnya menimpa gunung-gunung indah didepan mata. Membuat gugusan Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro seribu kali lebih gagah.

Seribu kata juga tidak ada artinya lagi. Pagi itu, adegan matahari terbit di depan mata benar-benar menunjukkan keagungan Sang PenciptaNya.

Seribu kata juga tidak ada artinya lagi. Pagi itu, adegan matahari terbit di depan mata benar-benar menunjukkan keagungan Sang PenciptaNya. Saya jadi ingat pada salah satu halaman buku “Soe Hok Gie, Sekali Lagi; Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya” yang menyimpan kutipan ini:

Berdiri disini benar-benar misteri. Kita merasakan kembali hakikat daripada manusia. Aku terkesan sekali tentang penciptaan alam sang manusia. Bila Tuhan di kota hanyalah nama asing yang formal belaka, disini aku merasakan bahwa Dia berdiri di hadapanku… besar dan indah sekali. Aku kira perasaan ini juga dialami oleh kawan-kawan lainnya” (hal 424-425).

Sayang sekali Prau pagi itu terlalu ramai, hingga suasana mistis dan religius yang harusnya benar-benar dirasakan dan diresapi jadi berkurang.

Setelah masak, sarapan, dan membereskan barang-barang, sekitar jam 10 pagi kita melangkah turun. Sepanjang perjalanan turun kita terus-terusan berpapasan dengan pendaki yang naik. semakin kebawah, jumlah yang naik semakin banyak. Tentu saja kita juga jadi lebih sering mengalah berhenti dan memberi jalan.

Gunung Prau benar-benar menjadi tujuan utama para pendaki, khususnya dari berbagai daerah di pulau Jawa. pada beberapa kesempatan,saya sempat ngobrolngobrol dengan salah satu dari beberapa rombongan yang berpapasan. Paling banyak mereka mengaku berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan Jogja. Yang paling banyak dari Bandung. Tidak heran, meskipun di daerah sekitaran Bandung banyak terdapat gunung yang sama sekali tidak kalah indah dan menakjubkannya, tetapi Prau tetap menjadi pilihan utama mereka.

Buktinya sebagian besar dari mereka adalah pendaki pemula yang kebanyakan baru beberapa kali (dan pertama kali) mendaki. Prau memang menawarkan banyak nilai lebih; pemandangan surgawi, mudah dijangkau, medan pendakian yang tidak terlalu ekstrim, dan yang paling penting adalah kemudahan akses mendakinya, cukup membayar registrasi dan meninggalkan KTP (saya lupa detailnya) tanpa harus cek ini-itu dan pembatasan kuota pendaki dalam satu hari.

Tiba-tiba kita semua ingat ketika sampai basecamp dan melihat kalender yang tergantung, bahwa hari itu adalah hari Sabtu menjelang tanggal 17 Agustus (17 Agustus hari Senin). Ternyata long-weekend… pantas saja jalur pendakian gunung Prau ramai dan macet.

(bukan) pasar malam
Advertisements

Published by

wisnu putra danarto

buruh harian lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s