Lebaran Kali Ini….

Pertama-tama, kami segenap keluarga besar blog Catatan Seorang Gembel (yaitu saya sendiri) ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1433 Hijriah. Minal aidzin wal fa’idin, mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang telah diperbuat oleh blog ini, baik yang tidak maupun yang sengaja dilakukan, semoga kedepan kita menjadi lebih baik lagi. Amin.. #sungkem..

Sesi sungkem kita sudahi dulu. Ibarat kalau kita sungkem dirumah kerabat atau dirumah tetangga, kalau sesudah sungkem, kita pasti disuruh untuk makan, atau disuruh mencicipi hidangan yang ada di meja tamu. Nah, kalau dipostingan ini setelah saya sungkem kepada teman-teman yang baca, saya juga sudah siapkan hidangan seperti biasanya, berupa postingan yang (masih) kurang bermutu.

Oke, postingan kali ini, saya mau sedikit cerita selama lebaran tahun ini yang masih tetap saya lalui dengan berbagai ke-absurd-an yang sepertinya masih saja terus menghantui, yang gak kenal momen. Bahkan di hari raya lebaran yang seharusnya menjadi hari yang indah seperti kebanyakan orang.

Lebaran tahun ini, tepatnya jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012. Sebenarnya tidak jauh beda dengan lebaran-lebaran tahun sebelumnya yang (biasanya) alurnya:
puasa berakhir->takbiran->begadang->mengeksekusi mercon->sholat Ied->sungkem dirumah->sungkem dirumah simbah->silaturahmi keliling kampung->silaturahmi kerumah pacar->masuk surga..

Tapi, lebaran kali ini sedikit beda dan entah kenapa berasa lebih dramatis, seperti ini alurnya: puasa berakhir->takbiran->dehidrasi karena tidak kebagian minum setelah teriak-teriak takbiran->trauma kena mercon segede botol->langsung pulang->pagi bangun kesiangan->hampir telat sholat Id->hampir nggak kebagian tempat sholat juga->sungkem dirumah->sungkem dirumah simbah->mulai jarang dikasih duit->silaturahmi keliling kampung->menjalani masa hibernasi.

Yah, seperti itulah lebaran saya tahun ini. Sedikit-tidak-lebih-baik-daripada-tahun-kemarin-karena-jomblo-dan-ada-acara-kuping-hampir-meninggal-kena-mercon. Walaupun nggak ada bagus-bagusnya kena mercon, tapi tetap ada sisi positifnya. Itung-itung hemat kapas atau headset buat nutup kuping pas main mercon selanjutnya (karena masih budek).

Lebaran kali ini juga ditandai dengan tagline (kata-kata) yang diucapkan oleh siapa saja (keluarga dan teman-teman)  yang baru mudik saat melihat rambut saya sambil berkata “Wisnu, rambutmu kok koyo ngene?!”dengan raut muka penuh keprihatinan. Dengan tenang saya jawab “dia baik-baik saja kok, emang lagi pengen abstrak aja”.Kian hari, semakin banyak orang-orang yang bilang seperti ini, dan sukses membuat kuping saya yang baru saja trauma mercon jadi tambah berdarah-darah.

Memang sih, sepertinya bulan puasa tahun ini berasa ada yang kurang, sepertinya saya menjalani bulan puasa kali ini hampir sama dengan bulan-bulan lainnya, cuma bedanya di bulan puasa jadi lebih hapal waktu adzan Maghrib (jangan tanya kenapa). Hari-hari bulan puasa kali ini saya lewatkan dengan hampir tiap hari kekampus dan nongkrong di hima, online-main karambol-gitaran-tidur semuanya di hima sambil tetep berpusing-pusing mempersiapkan acara terbesar tahun ini ‘Semarak Geografi’. Terus kalau dirumah saya malah lebih sering nongkrong di konter hp teman pas jamnya orang-orang Tarawih, lalu baru kemesjid saat orang-orang sudah pulang kerumah, jadi saya semacam penjaga rahasianya masjid, yang nongkrong dan tidur dimasjid tanpa banyak orang yang tau.

Ya, saya akui dibulan puasa kemarin saya tidak lebih baik dalam beribadah, sholat ya cuma sholat seperlunya, bahkan saya tidak menyadari saat puasa sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan puasa dan baru tau saat hari ke 24-an. Hal lainnya adalah jarang baca Al-Qur’an, di saat orang-orang kebanyakan bertadarus setiap habis sholat saya malah hampir selalu berkutat dengan Ms Word setiap selesai Sholat, kalau di itung mungkin nggak ada lima kali saya baca Al-Qu’ran puasa kali ini. Hampir kontras dengan puasa tahun sebelumnya yang bertepatan dengan OSPEK dan ESQ, sehingga bulan puasa saya tahun lalu lumayan baik, sholat, tadarus, kajian di masjid dan lainnya. Mungkin terpengaruh OSPEK dan ESQ yang waktu itu ada banyak hal yang bersifat membangun karakter.

Tapi, masak saya harus ikut OSPEK dan ESQ dulu untuk memperbaiki bulan puasa saya. Bukankah semua berasal dari dalam diri sendiri.. tapi gimana kalau diri sendiri saja nggak pernah bisa nurut.. (lah, malah ngaco)

Sepertinya memang benar, kalau bulan puasa adalah bulan penggojlogan dan peng-OSPEk-an diri setiap orang yang menjalaninya. Sehingga ketika orang sudah menyelesaikan satu bulan puasa dan orang ini mengatakan bulan puasa ini berhasil, maka otomatis dia akan mendapat hari Lebaran yang juga “berhasil” seperti contohnya; bisa sungkem dengan sukses ke orangtua, lebaran ini bisa kumpul dengan semua anggota keluarga besar, masih bisa melihat simbah-simbah kita memberi uang pada cucu-cucunya dengan senang hati, atau lebarannya berkesan karena nggak jomblo #jleb, paling tidak ada seseorang yang akan tetap tersenyum mendengar cerita ternyata ada orang yang hampir batal sholat Id (lho, itukan saya).

Dan, seperti yang sudah saya tulis tadi, saya merasa lebaran kali ini sepertinya kurang oke dibanding tahun kemarin. Mungkin bisa juga karena saya kurang merasai atau “menjiwai” bulan puasa kali ini dan terkesan hanya lewat begitu saja, sehingga saat bulan puasa berakhir dan berganti dengan hari Lebaran yang tiba-tiba tiba, saya jadi merasa kurang terlalu siap untuk menghadapinya. Sehingga sugesti saya mengatakan kalau LEBARAN KALI INI KURANG OKE!


Walaupun kurang oke, saya berhasil nemu foto ini di kamera teman saya, yang moto saat saya main bedug malam-malam (ssekitar jam 02.30 an) pas malam takbiran, disaat orang-orang sudah pulang dan beranjak tidur, saya berhasil mengganggunya.. hahaha (kan besoknya langsung bisa minta maaf)

 mukulnya sambil membayangkan wajah tukang parkir di gembira loka yang minta bayaran 5 ribu, aargh!!

Analogi Sahur, Menurut Saya

Saya nulis ini tepat lima menit lepas imsak sehabis sahur, yang artinya saya nulis ini dipagi-pagi buta yang bahkan ayam-ayam jago pun belum bangun (ya, gak cuma anak kos yang males).. nulis di pagi buta seperti ini adalah satu kejadian yang sangat langka, dan belum tentu bisa terulang lagi dalam lima belas tahun kedepan!! Yeah, backsound: we are the champion-Queen.
Pertanyaannya kenapa saya nulis pas imsak? Apa gak ada waktu lain yang lebih enak? Imsak kan seharusnya memaksimalkan waktu yang sedikit untuk menghabiskan semua yang masih tersisa di meja makan (kecuali piring).. ya, kali ini saya sedikit meninggalkan kebiasaan sehari-hari saya untuk menghabisi mereka (makanan).
Entah kenapa, obrolan antara adik dan ibu saya pas kita sahur tadi tentang Ramadhan yang ternyata tinggal menyisakan lima hari lagi membuat saya jadi mikir “iya ya, gak terasa tiba-tiba sudah hampir lebaran aja” sepertinya juga baru kemarin  kita ribut-ribut soal menentukan hari pertama puasa, sekarang sudah banyak aja iklan sirup dan biskuit bertebaran di TV.. entah apa hubungannya..
Juga, dalam iklan itu ada satu atau beberapa model iklan yang bergaya minta maaf ke semua orang dengan bilang “selamat idul fitri, minal aidzin wal fa’idin”. Iklan-iklan ini menimbulkan pertanyaan bagi saya:
1. Sejak kapan sebungus biskuit atau sebotol sirup punya salah ke kita, sehingga harus ada satu orang yang mewakilinya untuk minta maaf?
Mungkin contohnya yang paling realistis terjadi pada saya ya paling-paling mencret-mencret karena kebanyakan minum sirup atau salah makan biskuit lebaran tahun kemarin yang sudah basi. Itupun saya tidak pernah menuntut sirup atau biskuit-biskuit itu untuk membelikan saya obat mencret.
2. Sebenarnya, iklan-iklan yang sudah menunjukan adegan lebaran, mengucapkan selamat lebaran, dan meminta maaf itu syutingnya dimana? Pada saat orang-orang sedang khusyuk menjalankan puasa, eh, mereka sudah lebaran aja. Mereka akan mengganggu puasanya anak-anak kecil, dimana saat mereka sedang belajar puasa, digoda dengan iklan yang disetting sudah lebaran.
Saya sempat curiga mereka syuting di bulan atau yang paling ekstrim mereka syuting di planet Venus, mengingat perbedaan waktu dari bumi yang lebih cepat karena rotasinya yang juga lebih cepat, jadi disana lebarannya lebih awal. Orang Venus pasti punya waktu liburan lebih panjang daripada orang Indonesia.
Balik lagi ke waktu sahur tadi, setelah saya dengar obrolan  ibu dan adik saya secara samar-samar (padahal kita duduk semeja dan berjarak paling jauh satu meter) bulan puasa yang Cuma satu bulan dalam satu tahun ini memang sedikit banyak membawa perubahan bagi orang-orang yang telah mampu melaluinya.
Entah kenapa, saya jadi mikir kalau kebiasaan yag hanya ada dibulan puasa ini, yaitu sahur, ternyata punya proses yang hampir mirip dengan tantangan-tantangan yang sering kita temui saat kita baru saja memasuki lingkungan baru atau komunitas baru dimana kita masih asing dengan keadaan yang ada didalamnya (berhubung bulan ini masih terasa suasana OSPEK dan tahun ajaran baru). Di tahun ajaran baru, bagi anak sekolah yang baru memasuki sekolah baru, atau bagi mahasiswa baru, ataupun bagi orang yang baru bergabung dalam satu organisasi, awal proses adaptasi dengan lingkungan baru inilah yang akan menentukan perjalanan sampai akhir.
saat kita sahur, kita seperti mendapatkan atau diberi tantangan-tantangan yang sepertinya akan sulit untuk kita lalui tapi pada akhirnya kita bisa melalui dan akan merasa nyaman saat sampai pada beberapa tingkat. Karena tantangan-tantangan itu kita lalui secara bertahap. Hampir mirip dengan proses adaptasi kita dilingkungan baru kita dimana setiap tantangan-tantangan baru yang kita hadapi semakin kedepan akan semakin berat secara bertahap, tapi pada saat kita sudah ada dijalurnya justru kita akan menikmati setiap proses dan perjalanannya karena pada saat yang bersamaan daya tahan dan kemampuan kita juga meningkat.
1. tantangan pertama: bangun tepat waktu pas sahur, bangun waktu sahur adalah perjuangan pertama untuk menjalankan sahur.
Hampir mirip dengan proses memilih sekolah, universitas, atau komunitas baru. Dimana setelah memilih, perjuangan pertama adalah mengikuti seleksi untuk dapat masuk didalamnya.
2. tantangan kedua: Cuci muka dan berkumur sebelum makan sahur, perjuangan selanjutnya adalah cuci muka, cuci muka atau berkumur di pagi buta selalu terasa enggan dan berat.
Hampir mirip saat kita baru saja diterima di lingkungan baru kita, meskipun terasa berat dan juga banyak keengganan yang muncul, seperti takut tidak di terima oleh orang-orang lama yang sudah lebih dahulu ada.
3. tantangan ketiga: mulai makan, berikut mengambil makan sesuai dengan kemampuan menghabiskannya, pas sahur biasanya tingkat kesadarannya dibawah 10%, sangat berpengaruh.
Hampir mirip, saat kita baru awal-awal masuk dan bergabung, kita juga harus bisa merencanakan semua langkah kita kedepan dan harus sesuai dengan kemampuan kita untuk mencapainya.
4. tantangan keempat: menghabiskan makan sahur, sebagai pertanggung jawaban atas seberapa yang kita ambil untuk dimakan, harus dihabiskan.
Mirip saat kita sedang berusaha untuk mencapai semua target dan tujuan kita, harus mampu melewati semua yang sudah kita rencanakan karena itu kita buat sendiri dan sebagai pertanggung jawaban pada diri sendiri.
5. tantangan kelima: selesai sahur tepat waktu imsak, jam berapapun kita mulai makan sahur.
Mirip dengan komitmen kita untuk menyelesaikan dan menuntaskan semua target yang sudah kita rancang, harus selesai tepat waktu. Awal mulai itu penting, tapi lebih penting usaha dan komitmen untuk mengakhiri dengan baik.
6. Sampai disini, hal yang dilakukan setelah imsak adalah sholat Subuh, hal yang wajib dilakukan setelah sahur. Sama seperti saat kita sudah menyelesaikan target dan pencapaian kita, masih ada banyak hal untuk dilakukan, karena hidup tidak hanya cukup berdiri disatu pencapaian saja.
Ehm, agak ngaco dan banyak gak nyambungnya juga sih, maklum nulisnya pas subuh-subuh dengan tingkat kesadaran dibawah 10%.. hahaa
Sebagai bonus postingan ini, saya tampilkan foto kamar saya yang di bulan Ramadhan ini jadi sedikit lebih rapi di banding dengan bulan-bulan lainnya.
 ya, ini lebih rapi daripada biasanya kawan, percayalah..

Ramadhan, dan Sedikit Hikmah Yang Saya Tau

Selamat siang dan selamat berpuasa, bagaimana teman-teman.. lancar? Sedikit lancar? Atau  sama sekali gak lancar? Maksudnya yang saya tanyakan adalah kelancaran dalam berburu takj*ilan, bukan puasanya. Lah terus puasanya gimana?! Ehm, biar lancar sampai akhir nanti, saya punya tips jitu; jangan lupa minum extra joss setelah sarapan atau makan siang, pasti puasanya tambah kuat…
Oke, itu tadi sedikit salam hangat terdahsyat (dan tidak mutu) dari saya yang mengawali postingan ini. Kali ini saya mau membahas hikmah dan kebaikan yang sering kita temui di setiap bulan Ramadhan yang hampir pasti sering kita lupakan atau tidak pernah dianggap sebagai satu hal yang pantas kita syukuri (wuss).. sori, gembel juga bisa nulis hal-hal yang benar, termasuk acara musik Dahsyat yang semakin gak mutu (itu juga kebenaran).
Nah, dibawah ini saya coba menulis beberapa hikmah atau kebaikan yang biasa kita temui saat bulan Ramadhan yang meski kita rasakan, tapi kita sering tidak menyadarinya hingga kita lupa untuk mensyukurinya.. maka dari itu, bertobatlah kawan, sebelum terlambat, dan tangkap semua kebaikannya.. HAP HAP HAP HAP (sampai disini sepertinya saya ketukar dengan tagline iklan kartu perdana).
Saat Ramadhan, tanpa di sadari kita jadi lebih sering berhubungan atau minimal ketemu dengan banyak orang, hal yang jarang terjadi dibulan-bulan biasa. Dengan banyaknya kegiatan di luar yang memang mengharuskan kita untuk menjadi baik dan ramah pada orang lain. Keadaan ini tentu saja akan positif jika kita bisa menyesuaikan diri, karena pada saat yang sama orang-orang juga sedang berusaha untuk menjadi lebih baik. Bagi kita yang sebelumnya mempunyai masalah pergaulan dengan orang lain, sedikit banyak akan tertolong dengan datangnya bulan Ramadhan, contohnya:
1. Hubungan dengan orang tua
Mungkin keseharian kita sebelum bulan Ramadhan kita sering melawan kalau diberi nasehat dan jarang bisa bersahabat dengan bapak ibu kita. Di bulan Ramadhan seperti ini, dengan banyaknya frekuesi kita berkumpul bareng sekeluarga dan ngobrol duduk semeja, misalnya untuk buka dan sahur bareng. Ini akan banyak meminimalisir kesalah-pahaman antara kita dengan orang tua. Perlahan orang tua kita  yang kemarin-kemarin masih marah atau memendam emosi dengan kita jadi baik lagi. Begitupun dengan kita yang setiap saat menyusahkan dan selalu membuat emosi jiwa orang tua kita, dibulan Ramadhan ini kita punya banyak kesempatan untuk meminta maaf dan berbaik-baik dengan orang tua kita.
Hasilnya: uang saku tambah, THR dikasih, dan lebaran masih dibelikan baju baru #mentalgembel
2. Hubungan dengan teman
Di bulan Ramadhan ini, mau tidak mau kita akan sering berkumpul dengan orang lain (termasuk teman yang pernah kita musuhi) karena banyaknya kegiatan-kegiatan bersama dibulan Ramadhan, seperti Tarawih, buka bersama, atau ronda sahur bersama. Dengan pertemuan yang intensif ini, dan dengan obrolan yang akan muncul, teman yang dulunya tidak akur (entah apa alasannya) dengan kita lama-lama akan baik kembali seiring dengan perjalanan bulan puasa. Pas sudah akur lagi dengan sesama teman, apapun hal yang kita lakukan jadi lebih mudah (karena minta bantuan teman, kan sudah baikan).
Hasilnya: pas lebaran, dikampung secara gak sengaja kita ketemu dengan cewek yang asing tapi manis. Dan entah bagaimana ceritanya, ternyata itu adalah saudaranya teman kita. Karena sudah tidak musuhan lagi, usaha untuk pdkt dan kenalan jadi lebih gampang dengan bantuan teman tadi, yang sangat bisa kita berdayakan #mentalfakirasmara
3. Hubungan dengan tetangga
Buatorang-orang yang sering jadi musuh masyarakat sekitar atau jadi public enemy. Mungkin bisa karena suka mengganggu mereka; suka nyetel musik keras-keras, suka teriak teriak malam-malam, suka pipis sembarangan dihalaman rumah tetangga, suka mencuri mangga tetangga, suka makan rumput tetangga (hanya bisa terjadi kalau anda seekor kambing), atau kalau kamu suka keliru mau ngecat tembok sendiri malah ngecat tembok tetangga. Tetangga-tetangga pasti menilai kita adalah musuh besar-gila-goblok dari neraka yang harus cepat-cepat dibasmi sebelum kiamat datang (ya, tetangga memang tega menyamakan kita dengan Dajjal). Dan mungkin kita juga sering menilai tetangga-tetangga kita adalah sekelompok orang utan liar yang mengganggu kehidupan kita, maka di Ramadhan ini dengan banyaknya acara untuk ngumpul sampai nanti puncaknya saat takbiran dan lebaran. Hubungan dengan tetangga akan bisa jadi lebih baik. Setidaknya sampai bulan syawal selesai.
Hasilnya: kalau silaturahmi atau main ke rumah tetangga, kita akan diperlakukan secara lebih manusiawi. Apa-apa akan ditawarkan ke kita, seperti; ditawari makan, ditawari main nintendo baru tetangga, ditawari nyoba motorsport baru tetangga, atau mungkin ditawari keponakan cewek tetangga dari luar kota yang baru datang..hahaha #mentalgembel #mentalfakirasmarajuga
4. Hubungan dengan pacar
Yang hubungan dengan pacarnya sedang kritis-kritisnya sebelum bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan ini, ada banyak momen yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan. Yap, mungkin di bulan-bulan biasanya jarang akur, setiap hari adu mulut, setiap saat stres, pas berantem mau pura-pura mati tapi gagal terus, atau mekanisme pembelaan diri kita juga gagal terus. Nah, di bulan Ramadhan ini, walaupun saat sedang puasa jadi jarang ketemu, tapi di waktu lain kita punya banyak waktu untuk saling introspkesi dan lebih mengenal masing-masing dengan mengajak pacar untuk; Sholat Tarawih bareng dan Sholat-Sholat lain juga berjama’ah. Tadarusan bareng selesai Sholat, selain hati kita sendiri  jadi tenang, saat tadarusan pasti pacar juga akan semakin merasa lebih nyaman saat berada didekat kita. Ngabuburit di masjid kampung kita atau dikampung pacar bisa bergantian, selain mengisi waktu bersama, manfaatnya juga bisa membantu mengajar TPA anak-anak dikampung (pencarian takjilan tidak ketinggalan). Kalau hal-hal ini dilakukan, walau tidak rutin tetapi setiap hal selalu berkesan, pasti kita tidak jadi kepikiran mau putus.
Hasilnya: hubungan dengan pacar jadi lebih dekat, kita juga jadi lebih kenal siapa pacar kita dan pacar jadi lebih kenal diri kita (termasuk kemampuan baca Al-Quran kita yang masih level keong), dan menghabiskan waktu libur lebaran bersama nanti pasti akan lebih assoy.. #initidakberlakubuatyanglagiLDR  #yangjomblojugasih
Nah, itu beberapa contoh hikmah yang banyak kita rasakan dibulan Ramadhan seperti saat ini, walaupun jarang kita sadari tapi sedikit banyak pasti pernah kita dapatkan. Sekian dari saya. Akhir kata, wabillahi taufik wal’ hidayah, Wassalam Mu’alaikum, Wr wb.
Semoga bermanfaat, dan salam hangat terdahsyat untuk seluruh keluarga Indonesia (by: cuci-cuci-
 jemur-jemur foundation).