This Is LIFE, And This is So Near by DEATH

Baru saja buka fb seorang teman SMP dan SMA yang sudah meninggal. Ya, sudah MENINGGAL..


Sekitar akhir tahun lalu dia meninggal dalam kecelakaan motor di Bangka. Memang dia gak pernah jadi teman sepermainan saya, karena dari SMP dan SMA kita tidak pernah sekelas. Tapi kalau akrab, pasti. Dia teman nongkrong pas bareng-bareng dikantin, diparkiran, atau teman dilapangan basket pas males untuk ikut pelajaran. Dan, walaupun kita tidak pernah sekelas dan tidak pernah se-geng atau sepemainan, tapi kita seperti dua orang teman sebangku kalau ketemu, rasanya gak berlebihan..

Dan perasaan sedih atau haru pasti akan datang kalau kita mendengal seorang teman dikabarkan meninggal. Walaupun kita tidak terlalu mengenal, hanya sama-sama tau, atau tidak pernah terlalu dekat. Tetapi kalau mendengar orang yang pernah kita kenal, atau minimal kita pernah tau (walaupun tidak kenal nama), this is so bad.

Saya tidak akan ngomong banyak tentang teman saya yang sudah meninggal ini, tidak etis rasanya membicarakan orang yang sudah meninggal, lagipula, dia sudah tidak akan bisa menanggapi. Yang saya mau bicarakan adalah KEMATIAN itu sendiri.

Kadang kita (atau mungkin hanya saya) menganggap kematian itu adalah topik yang sensitif untuk dibicarakan, saya selalu menganggapnya sesuatu yang gak eksis. Padahal kenyataannya kita dekat sekali dengan kematian tersebut. Hal yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah kematian, walaupun kita selalu deny (menolak) keberadaannya. Ya, Living is constant denying for death.

Kita hidup didunia ini seolah-olah melupakan sesuatu yang dekat dan pasti. Kita tertawa, kita bercanda, kita jatuh cinta, kita sedih, kita putus asa, ataupun kita menikmati kebersamaan. We are too busy with our life and his content, but is here. Saat itu terjadi, its hit so hard. Saya masih ingat saat kakek saya meninggal pas SMP kelas tiga, yang sering mengantar latihan bola atau menemani kekamar mandi waktu kecil. Tiga bulan kemudian, Om saya meninggal dengan sebab yang sama: stroke. Tapi saat saya mendengar teman SMP ini meninggal, its too invicible to us as a teenager.

Mungkin karena kita masih seumuran, dan saat itu saya jadi sadar. Saya juga bakal mati.
Saat mendengar berita kematian, atau saat mendengar bencana yang menelan korban banyak, saat itu saya merasa diri saya kecil. Kita hidup didunia tidak untuk selamanya, badan ini “dipinjamkan” untuk kemudian diambil lagi saat badan kita sudah terlalu lelah atau terlalu rusak kita pakai. Setiap napas adalah satu tarikan napas lagi lebih dekat dengan kematian. Dan sekali lagi: WE ARE NOT INVICIBLE, bisa saja setelah saya selesai nulis ini, adalah waktu yang dipersiapkan Tuhan buat memanggil saya.

Saat saya membuka Fb teman saya tersebut, banyak wall yang masih berdatangan dari teman-teman yang mungkin semasa hidupnya sangat dekat untuk sekedar mendoakan dan berbagi kerinduan. Kadang saya  mikir, seperti apa saat saya meninggal nanti, adakah yang akan melayat? akankah ada yang rela berdesakan sekedar untuk melihat saya yang terakhir kali? akankah saya masih diingat? atau dalam Facebook yang banyak teman disana, saya masih disapa? untuk sekedar menyampaikan doa-doa dan ingatan-ingatan tentang sesuatu yang pernah dilakukan?

Ya, sekarang kita hidup, kita tertawa-tawa dengan orang lain, punya banyak teman. Tapi setelah kita mati, dilupakan dan tidak ada artinya lagi, untuk apa semua itu? Saat saya hidup, saya gak mau hanya sekedar orang atau jiwa yang memenuhi bumi ini, menyesaki kota ini, sama-sama makan, minum, berak, bicara, berjalan. Untuk apa?

Saya pengen, selagi saya hidup dan sebelum saya mati yang tidak tau kapan, harus berbuat sesuatu. harus lebih atau membuat satu hal (karya atau whatever things) untuk diingat dan akan hidup terus, dengan apapun, harus lebih banyak memanfaatkan kesempatan juga. Saya pengen, saat saya sudah mati dan mulai dilupakan, ada sesuatu yang pernah saya lakukan, yang masih ada disekitar orang banyak, atau minimal masih diingat.

Chuck Palahniuk pernah berkata “The goal is not to life forever, but to create something that will.” 

Saya nggak mau dilupakan begitu saja.
Menjadi nama yang setelah hilang menjadi tidak berarti lagi.

Nama yang dipajang di atas nisan,  yang berlumut, usang, bau, dan ditakuti orang lewat. Yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi, namun lama-lama semakin jarang.

Hingga pada akhirnya hanya dikunjungi menjelang bulan puasa.

Ya, saya pasti akan mati, dan saya ingin diingat.

Kalau Saya Punya Jenggot, Akan Seperti Ini

Oh my goose (ya angsaku)…


Saya juga gak tau kenapa saya manggil angsa,

Minggu ini UAS dimulai, hari dimana umat manusia dikumpulkan jadi satu, amal baik dan buruk ditimbang, dan bumi dihancurkan sampai gunung beterbangan seperti inai-inai… tunggu, ini UAS atau kiamat?.. sepertinya saya mulai gak bisa membedakan antara ujian dengan kehancuran umat manusia yang digambarkan di kitab suci -____- ..

Well, UAS bagi saya lebih mirip kiamat kecil yang menghancurkan umat mahasiswa yang gembel dalam belajar dan pelajaran seperti saya ini. Jadi jangan tanya kalau saya stres bukan karena sulitnya bahan ujian, tapi karena gak punya bahan ujian.

Tapi sekarang sudah agak santai, soalnya ujian-ujian yang paling sulit sudah terlewati, tinggal menyisakan setengah perjalanan ujian minggu depan (buset ngomongnya udah kayak perjalanan mengambil kitab suci kebarat). Padahal tepat 24 jam yang lalu saya masih bergulat dengan laporan praktek geo tanah dan materi dua mata kuliah dari neraka (hidrologi dan kartografi).. sekarang saatnya main PES sambil kipas-kipas pakai kertas data praktek geo tanah, hahaha.. tapi tunggu, besok masih ujian teori geo tanah, sekali lagi OH MY GOOSE!!..

Sudah-sudah, pembahasan tentang ujiannya lebih baik kita sudahi saja, berhubung kalau saya nulis tentang ujian juga gak menambah kepintaran dan kemampuan kita dalam mengerjakan ujian, so kita sudahi saja tulisan ini.. backsound: kangen band-sudah usai sudah.

Berhubung cara belajar konvensional (membaca buku, membuka ppt sampi mata sipit sebelah) terlalu menyiksa buat saya, saya pun punya cara belajar sendiri, yaitu belajar sepuluh menit dengan selingan main PES atau nonton film setengah jam, walaupun sepertinya tidak seimbang, yang penting belajar..

Dan Selasa malam kemarin, ditengah saya belajar geomorfologi. Saya sempet nemu film yang berseting abad 17 di Prancis, kalau gak salah judulnya Three Musketers, filmnya bercerita tentang tiga pasukan atau bisa dikatakan pahlawan yang tidak diakui oleh kerajaan Prancis, padahal mereka sangat berdedikasi jika dibanding pasukan aslinya.

Filmnya cukup bagus, yang main keren-keren. Dan yang membuat saya sedikit heran adalah hampir semua tokoh, termasuk semua anggota Three Musketers brewokan atau punya jenggot, mungkin karena ceritanya abad 17. Terlihat jelas mereka keren sekali dengan jenggot yang numbuh kemana-mana. Memang pria punya ketela, maksudnya punya selera, sori.. Dan sepertinya pria yang punya jenggot itu lebih sangar, kecuali Ivan Gunawan yang pernah menumbuhkan jenggot.

Setelah nonton film itu saya mulai mikir, oiya, kenapa saya gak menumbuhkan sendiri jenggot dan kumis (kalau kumis sudah tumbuh kemana-mana)saya sendiri. Mulai saat itu saya mulai nanya-nanya bagaimana cara menumbuhkan jenggaot dengan cepat, saya sempat berniat untuk bertanya pada orang pintar mengenai masalah ini. Dan sempat bertanya pada orang pintar beneran (tetangga saya lulusan S2 teknik mesin ITB, dan sedang S3 di UGM) tapi saya batalkan setelah tau dia gak punya jenggot. Dan akhirnya saya mendapat pencerahan dari kakek saya yang memang sudah sangat berpengalaman didunia perjenggotan, sampai jenggotnya putih semua (entah karena faktor pengalaman atau faktor umur).

Menurut kakek saya, cara paling sederhana untuk menumbuhkan jenggot dengan cepat adalah memakai kemiri. Caranya; kemiri dibakar sampai gosong, lalu diperas sampai keluar minyak, minyak ini yang dioleskan ke janggut. Awalnya setelah membakar kemiri tersebur, saya berkhayal pengen menumbuhkan jenggot dalam waktu semalam. Tapi takdir berkata lain, sore saya lakukan itu (mbakar kemiri) dan keesokannya saya lihat dikaca ternyata belum terjadi apa-apa dengan jenggot saya, akhirnya saya menyerah. Kelihatannya memang gak ada bakat saya jadi seperti Gerard Pique….

Tapi, sebagai mahasiswa yang tanggap akan keadaan lingkungan sekitar,  iseng-iseng saya mensimulasikan diri bagaimana dengan muka saya kalau tiba-tiba saat bangun tidur pagi-pagi mendadak saya punya jenggot panjang dan lebat..

Ini foto yang saya gunakan sebagai eksperimen, awalnya foto ini rencananya untuk foto KTP setelah lulus SMA dulu. Tapi saya batalkan setelah tau kalau background poto harus polos (entah siapa yang goblok) dan ada potongan jari di sebelah kiri poto.Punyu-munyu sekali bukan,, sampai-sampai saya gak tau kalo potonya didepan jemuran sprei bergambar lumba-lumba.




Dan, beberapa simulasinya adalah….

1. jenggot dan kumis lebat, tapi tipis-tipis, model Gerard Pique

 entah, saya merasa jantan kalo kaya gini, andai saja ini bisa dipake buat topeng kemana-mana…



2. Jenggot model iklan obat Fird*us

malah jadi seperti kakek-kakek yang masih ababil



3. Jenggot dan kumis model kerajaan eropa abad 17

 ingat film Pirates of Carribean? bukan, saya bukan bajak laut-nya, saya lebih mirip burung beonya



4. Jenggot model kelebihan hormon

kalo saya pulang dalam keadaan seperti ini, pasti Ibu saya mengira saya baru saja tersesat di hutan selama 15 tahun


5.Jenggot model kaum Hippies, model ini booming di tahun 60-70 an

sepertinya asoy juga kalo punya jenggot seperti ini


6. kumis model Adolf Hitler

sekali lagi, ini malah seperti Jojon waktu masih labil


7. Jenggot model klimis

ini lebih mendingan


Bagaimana, asik juga ternyata kalo saya berjenggot.. Tapi sepertinya, saya lebih suka apa adanya walaupun terlihat seperti ababil kalau tanpa jenggot atau kumis. Itu semua punya waktunya masing-masing. Jadi nikmati saja setiap tahapannya, termasuk tidak punya jenggot. Kalau mau muntah, muntahkan sekarang juga.. *hoek

Saya pria dan punya ketela, wassalam..



Saya Tidak Ikut SEMESTER PENDEK, Dan Ini Alasannya


“kalo di semester pendek (selanjutnya SP) kan mata kuliah yang kita pilih udah pasti lulus, yaa minimal dapet nilai B lah”

Obrolan dengan seorang teman kemarin membuat saya bertanya balik “oh, iya pa? Aku baru tau ini lho, tapi kok bisa pasti lulus gitu?”. Teman tadi menjawab “yaa kan kita bayar SP langsung untuk dosen, jadi ya tau sendiri-lah…. hahaha” (dari nada bicaranya teman saya ini hanya bercanda, tapi siapa tau?!)

Tadi pagi, seperti biasa saya kekampus untuk rapat panitia PLG, saya yang berangkat dari rumah jam 10.00, satu jam dari waktu rapat dimulai (sengaja nelat) kembali menemui kesibukan dan hiruk-pikuk teman-teman yang sedang mengurus SP. Entah sedang ngisi KRS, mau bayar atau ketemu PA. Dan memang seperti hari-hari kemarin, teman-teman masih ribut-ribut; mulai dari waktu yang mepet untuk mengurus ini-itu, dosen yang sulit ditemui, belum jelasnya info dari SP itu sendiri, sampai khawatir nilainya nanti bagaimana.

Saya yang sejak awal sebelum libur minggu tenang bilang untuk tidak ikut SP dan selalu bersikap masa bodoh kalau disekitar saya ada orang yang membahas SP, Bayangan di kepala saya, dengan tidak ikut SP dan full liburan mungkin bisa meneruskan proyek saya yang tertunda, bisa mbolang atau nggembel ke luar kotar yang sejak dulu saya pengen banget, akhirnya ikut bicara juga.

Saya katakan kalau kalian (teman-teman) ikut SP dan gak dapet nilai bagus, kalian rugi!.. kita sudah bayar 60 ribu per SKS dan itu  untuk dosen, jumlah tatap muka SP pasti berbeda dengan semester reguler pasti lebih sedikit, kalaupun kita mengambil mata kuliah “pokok” dan bukan mata kuliah dasar/umum, bisa dipastikan tidak akan optimal. Bukankah ini semacam “jalan pintas” atau instanisasi pembelajaran (wuss bahasanya..saya gak nemu bahasa yang pas selain ini :D). Lalu dengan meminimalisasi pembelajaran ini, kita akan digiring untuk sekedar mengejar nilai bagus, bukan begitu? Terlalu idealis dan terlalu munafik kalau mengatakan ikut SP untuk mengejar ilmu seperti kuliah reguler.

Toh sistemnya (sistem perkuliahan, lebih luasnya sistem pendidikan) juga mengajari dan memberi jalan kepada pelakunya untuk melakukan “instanisasi-instanisasi” ini. Ya, sistem pendidikan kita selain terlalu banyak mengadopsi sistem pendidikan barat, juga sering menghalalkan instanisasi-instanisasi yang bermacam-macam jenisnya.

Contohnya, sebut saja sistem UN yang sampai sekarang masih diperdebatkan, antara “bagaimana mengerjakan soal dengan jawaban yang paling benar” atau “bagaimana cara menguasai suatu ilmu dan menggunakannya untuk masa depan”. UN dinilai terlalu dangkal untuk dijadikan sebagai tolak ukur berhasil atau tidak seorang siswa dalam belajar dan “mencari ilmu” disekolah. Banyak aspek atau dasar penilaian yang ikut menentukan berhasil atau tidak seorang siswa dalam pembelajaran disekolah. Dan ketika ditemukan praktek kecurangan di UN yang dilakukan oleh oknum guru agar siswanya lulus, selain melanggar etika akademik, disisi lain ini adalah satu pertanda bahwa sistem UN sudah merusak sendi paling dasar dari pendidikan; kejujuran.

Lalu dengan sistem UN ini, semakin banyak kita temui program bimbingan belajar atau les yang khusus hanya mempelajari trik-trik untuk menjawab UN dengan benar, bahkan berlomba-lomba untuk menemukan cara-cara paling cepat dalam mengerjakan ujian, khususnya Matematika.

Bentuk instanisasi pendidikan lainnya adalah menjamurnya PTS (Perguruan Tinggi Swasta) “jadi-jadian” yang bermunculan ketika musim penerimaan mahasiswa baru. Dengan iming-iming biaya murah, lulus cepat, bisa masuk 2 kali seminggu, lulusan cepat dapat kerja, terakreditasi “bla bla bla”, bahkan beberapa PTS di Jakarta memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus.

Sampai awal tahun 90-an sistem perkuliahan di perguruan tinggi masih menggunakan sistem lama (sebelum sistem SKS). Dengan sistem lama, seorang mahasiswa bisa mendapatkan predikat cumlaude bila IPKnya minimal 3,51 tanpa batasan masa studi. Asalkan selama kuliah, tidak ada mata kuliah yang diulang atau minta perbaikan.

Sistem lama ini menurut beberapa orang lebih adil. Kenapa? karena itu menandakan kalau mahasiswa yang bisa meraih cumlaude memang benar-benar tekun belajar dan mendalami apa yang diajarkan. Itu bisa dilihat dari semua mata kuliah berarti mahasiswa tersebut harus dapat nilai A dan A/B, minimal dengan beberapa nilai B. Dan itu tanpa diulang.

Berbeda dengan sistem sekarang, mahasiswa yang bisa cumlaude dibatasi maksimal mnyelesaikan kuliah dalam 5 tahun. Ada semacam kejar-kejaran waktu dan percepatan belajar. Jadi terkesan lebih mementingkan kecepatan belajar dan perolehan nilai, tanpa memperhatikan penguasaan ilmu dengan baik.


Ada beberapa pihak yang ikut menyesalkan sistem ini. Memang ditemukan beberapa kelemahan. Contohnya di sebuah fakultas/universitas, SP yang biasanya hanya boleh digunakan untuk memperbaiki nilai alias remidi, di fakultas tersebut boleh ambil mata kuliah baru. Otomatis dapat dipercepat. Kemudian di fakultas/Universitas lain ditemukan juga seorang mahasiswa bisa mendapatkan nilai yang bagus untuk mata kuliah pilihan karena waktu kuliah dan penilaian yang mepet. Bisa dibilang sedikit yang dapat B, tapi A/B sudah di tangan. Gampang kan dapat nilai bagus?! Padahal di fakultas/Universitas lain mata kuliah wajib dan pilihan tidak ada bedanya. Belum lagi ada kebijaksanaan yang memperbolehkan mahasiswanya “mencoret” beberapa mata kuliah bila sudah melebihi 144 sks. Nah …

Ada lagi fakta seorang mahasiswa yang kalau dia dapat B, bahkan A/B, dia langsung ngulang lagi. Ada juga yang bukannhya ngulang, tapi  ke dosen pengampu mata kuliah buat minta tugas tambahan biar nilainya jadi A.

Kenyataan-kenyataan tersebut sebenarnya mudah untuk kita evaluasi, karena kita dekat sekali dengan masalah-masalah tersebut (dunia pendidikan). Tapi sebenarnya bagian mananya yang harus diperbaiki?

Wow, Ternyata Saya Pernah Nulis Seperti ini…

oh, ternyata saya masih punya blog???????!!….
(tanda tanya yang terlalu banyak sepertinya)
langsung saja, tadi pas bongkar-bongkar kertas-kertas lama, kertas atau buku yang lamaa banget pun masih kesimpen cukup banyak dan gak rapi, iya, saya memang gak suka menjual kertas atau buku kiloan, (kecuali kalau kepepet) soalnya sayang banget, isi yang ada dibuku lama lebih mahal daripada harga kiloan dari buku tersebut. Soalnya ada teman yang mau minta soal-soal SNMPTN tahun lalu (tau sendiri buat apa)
Nah, pas bongar-bongkar kertas jadul itulah saya menemukan satu buku catatan saya pas SMA yang ternyata masih utuh. Soalnya dibuku itu isinya banyak banget dan penuh kenangan. Mulai dari nulis puisi labil, curhatan sesat, catatan-catatan kebrutalan pas SMA, tulisan-tulisan terkutuk dari teman-teman SMA, gambar-gambar komik sendiri (yang lebih menyerupai bahasa simbol-simbol jaman Batu), sampe pipis cecak juga ada dibuku itu. Pokoknya memorable banget, soalya setiap catatan disitu ada tanggalnya.
Yang jadi keheranan saya adalah: dari semua catatan-catatan dan tulisan saya itu, ada satu catatan yang menurut saya diluar dari kebiasaan saya. kalau dibaca atau dilihat-lihat sekali lagi kok kayaknya bukan tulisan saya, sepertinya mustahil saya nulis se-moralis dan se-lurus ini. sempat terpikir kalau saya kesurupan demit idealis pas nulis catatan itu, tapi saya keinget lagi, setan mana yang mau merasuki gembel seperti saya.
Setelah saya lihat tanggalnya (30 Mei 2010), jadi keinget kalau saya pernah beli buku Catatan Seorang Demonstran (Soe Hok Gie) sebelum ujian SMA, sekitar Maret 2010. Dan juga lagi seneng-senengnya baca buku-buku Pramodya Ananta Toer dan Wiji Tukul di perpus. Jadi  mungkin sedikit terpengaruh (tanda-tanda usia labil: mudah terpengaruh).
dibeli pakai uang sendiri
pose sok mikir, membaca aja gak lancar
Dan kalau mikir lagi, wow, ternyata dulu saya sempat jadi pemikir (bukannya mau sombong, dulu pas SMA pernah ditunjuk mimpin diskusi sastra dengan guru B Indonesia dikelas) walaupun bersamaan dengan itu juga saya lagi parah-parahnya main taruhan di PES dan di Piala Dunia (Piala Dunia 2010) sampai menggadai hp empat kali.
dan inilah catatan yang saya sendiri yang nulis sempat heran kalau saya bisa seperti itu mengingat saya sekarang yang terlalu males mikir dan menganalisa apa-apa, apalagi mempersoalkannya…
tanggal, 30/5 2010
Sabtu kemarin saya melihat copet yang dihajar massa dijalan *******(tiit), saya hanya lewat dan tidak merasa apa-apa. mungkin dia lebih baik nyopet daripada hanya meminta-meminta/mengemis, setidaknya dia (pencopet) lebih banyak berusaha, dan lebih berani karena dia memperjuangkan hidupnya sendiri (karena lapar atau utang mungkin), terlepas dari resiko yang akan dihadapi, perjuangan tidak ada yang sia-sia. Dan setidaknya dia berusaha.
Sampai saat ini belum/tidak ada yang menanyakan pada saya “mengapa kamu hidup ada disini dan untuk apa?”, padahal kalaupun ada yang khilaf bertanya demikian saya belum pasti dapat menjawab dengan jernih, karena jawaban yang keluar pasti akan sangat terpengaruh oleh suasana hati/perasaan saat itu. Setiap manusia ketika ditanya seperti itu mungkin menjawab, tujuan saya hidup didunia ini adalah meraih kebahagiaan sesuai yang saya inginkan.
Ya, memang setiap manusia punya tujuannya masing-masing dalam hidupnya, karena kalau manusia ini tidak lagi mempunyai tujuan hidup, untuk apa dia hidup. Bukankah dia lebih baik mati barsamaan sejak tujuan hidupnya luntur. Tetapi apakah setiap tujuan dari satu manusia ini harus selalu tercapai, bukankah  manusia dalam usahanya tersebut akan melakukan segala cara demi tujuannya, bukankah setiap kepala manusia yang bermilyar-milyar jumlahnya didunia ini pasti punya isinya masing-masing, yang tentu berbeda-beda pula tujuannya.
Lalu kalau kesemuanya ini hidup dalam satu ruang, pastilah setiap manusia tadi bertabrakan satu sama lain karena arah jalan mereka berbeda pula untuk mencapai tujuannya. Ya, hidup kita adalah hasil dari tabrakan-tabrakan kecil dan besar antara nafsu dan ambisi, satu keniscayaan kita hidup diantara keduanya sejak dulu manusia pertama diciptakan sampai nanti semuanya akan diakhiri . Dan sejarah sudah membuktikan kita belum pernah bisa lepas darinya.
Belakangan saya kembali memikirkan pertanyaan tersebut yang sebenarnya selalu menghantui saya.
Sejak kecil saya selalu melihat hal-hal yang timpang dan berkebalikan yang dilakukan manusia. Oleh manusia yang saya lihat, dimana saja bisa saya temui; dirumah dijalan, disekolah, di kampung, dikantor pemerintah, bahkan di tempat ibadah. Setiap ucapan seseorang yang saya lihat dan saya anggap benar, di lain waktu atau bahkan pada saat yang sama bisa melakukan satu hal atau ucapan lain yang tidak ada hubungannya dan berkebalikan dengan sikap pertama yang saya lihat dan saya anggap benar tersebut, seolah-olah setiap manusia adalah pengkhianat bagi dirinya sendiri.
Saya biasa menemui guru PKn yang punya selingkuhan, seorang ustad yang setiap minggu mengadu ayam, seorang komadan polisi yang membawa sebotol vodka setiap jaga malam, kepala sekolah yang setiap pagi nongkrong ditempat penjual burung sambil mengawasi muridnya dihukum, atau seorang security toko yang membantu pencurian ditokonya sendiri.
Atas nama apa semua itu,,, nafsu? ambisi? ataukah kebutuhan? ya, seolah-olah semua ini (kehidupan) hanya permainan saja, permainan tersebut hasil persilangan antara nafsu dan keangkuhan dari manusia. Permainan ini terlihat menyenangkan diari luar.
Saya mulai berpikir kalau hidup manusia adalah sebuah sistem paradoksal yang dahulu dimulai dan diciptakan manusia dan tetap ada sampai sekarang. Seolah-olah kita terjebak oleh permainan yang kita buat sendiri dan kita terlanjur tidak mampu keluar. Kita menikmati permainan ini disamping menderita olehnya, setiap detik permainan ini dalam hati kita berteriak “stop pengkhianatan atas apapun juga”.
Seorang manusia memiliki moral yang membedakannya dari hewan atau tumbuhan. Dimana nilai tertinggi dalam kehidupan manusia adalah nilai moral. Dan moral inilah yang menjaga manusia tetap berbeda dari hewan, karena dari nilai moral ini nilai-nilai kemanusiaan tumbuh dimana hewan tidak memilikinya. Lalu apabila nilai moral tersebut sudah mulai hilang dari seorang manusia, tidakkah berbeda dia dengan hewan?
hewan juga punya otak dan kemampuan berpikir, seperti manusia. Seharusnya pernyataan manusia adalah hewan yang berpikir diganti menjadi manusia adalah hewan yang bermoral.