Banda Neira hilang, dan tidak akan berganti

Beberapa bulan lalu saya terlibat obrolan dengan teman (cewek) via whatsapp, teman saya ini sedang berada di kota berbeda. Saya lupa gimana awalnya, tiba-tiba kami mulai membicarakan Banda Neira, band yang sama-sama kami sukai. Saat itu Banda Neira sedang vakum karena Rara Sekar melanjutkan kuliah di New Zaeland, sedangkan Ananda Badudu tetap di Indonesia, tetap jadi jurnalis Tempo.

“Banda Neira udah mau bubar tuh kayanya.. si Nanda sakit ati ditinggal nikah sama Rara”.

“iya, kasian sih, diajari main musik, diajak bikin proyek duo, tetep difriendzone juga, bertaun-taun pula, sampe ditinggal nikah.. bangsat emang”

“hahaha, lagian susah kali udah kaya gitu, udah terkenal mau pacaran apa gimana kan susah”…

“lah Endah N Rhesa malah suami istri, sampe sekarang masih ada, gimana tuh”…

“iya sih ya”. Continue reading Banda Neira hilang, dan tidak akan berganti

Menghilang ke Semeru (Bagian I): Merencanakan perjalanan

“I read somewhere… how important it is in life not necessarily to be strong, but to feel strong… to measure yourself at least once.”  ― Jon Krakauer, Into the Wild

Wacana gila berangkat ke Semeru sendirian berawal dari kegelisahan saya setelah rencana mendaki ke gunung Slamet pada libur lebaran batal karena minim personel yang mengiyakan ajakan. Dari beberapa orang yang masuk list (saya, Anggoro, Ali, Iqbal, Joko, Boweng, Lulut, Imam, Aji), hanya saya dan Anggoro yang bisa, itupun karena yang punya inisiatif kita berdua. Terpaksa rencana ke Slamet harus dibatalkan.

Continue reading Menghilang ke Semeru (Bagian I): Merencanakan perjalanan

Musim Hujan Telah Tiba

Musim hujan sudah tiba di Jogja. Sebenarnya tibanya hujan juga tidak baru-baru ini, kurang lebih hujan pertama datang di November kemarin. Rutinitas hujan di tiap sore baru ada beberapa Minggu ini. Tapi, baru beberapa minggu pun hujan sudah membuat susah orang-orang yang tinggal di perkotaan. Banjir, macet, banjir, angin ribut, kilatan petir yang sering menyambar antena jaringan internet atau tower sinyal. Memang, hujan ini banyak menyusahkan saja (bagi orang-orang di perkotaan).

Atau memang cuma orang-orang perkotaannya saja yang dikit-dikit ngeluh? hujan deras agak lama takut banjir, jalan jadi macet, janjian bertemu dengan seseorang bisa telat. Atau, saat musim kemarau panjang gara-gara El Nino kemarin juga mengeluh kepanasan, sudah hidup di kota di daerah tropis, kena musim kemarau berkepanjangan, bakar saja sekalian. Continue reading Musim Hujan Telah Tiba

Setelah Ini Apa Lagi?

Saya pernah terlibat obrolan kecil dengan seorang bapak-bapak penjual koran dan majalah di daerah Cebongan yang jadi langganan bapak saya beli koran dan sesekali beli tabloid Bola (bapak saya tiap hari beli koran tapi herannya tidak pernah berlangganan langsung). Obrolan tersebut terjadi pertengahan tahun 2014 lalu, sebelum pilpres.

Pagi dihari Sabtu itu, saya mampir ke kiosnya untuk membeli koran biasanya, pagi itu saya baru selesai bersepeda dan sudah berencana mampir sebelumnya. Karena memang sudah mendung, hujan turun juga tepat sebelum saya pergi. Terpaksa saya neduh dan numpang baca koran disitu, sambil diajak ngobrol bapak-bapak yang enteng suara dan cerita ini. Ya, saya juga heran kok ya tiba-tiba ingat hal ini.. Continue reading Setelah Ini Apa Lagi?

Jalur Sutera yang Sekarang Jadi Remukan Peyek

Jika anda adalah warga asli sekitaraan antara daerah Blabak Magelang sampai Selo Boyolali, atau kalau bukan warga asli aktivitas anda berkutat di daerah tersebut, dan kalau bukan keduanya, tapi sering melewati daerah tersebut terutama akhir-akhir ini, bisa dipastikan pernah melewati dan tau kondisi terkini jalan lintas kabupaten Magelang-Boyolali.

Ya, kondisi jalan yang juga jalur sutera bagi truk-truk penambang pasir dari lereng Merapi bagian utara karena cuma satu-satunya jalan utama yang menguhubungkan daerah tersebut ke kota Magelang maupun kota Boyolali tersebut belakangan ini rusak parah hampir di sepanjang jalan. Sebagian besar bagian nyaris hancur total dan hanya menyisakan lapisan paling bawah yaitu kerikil-kerikil kecil, mirip remukan peyek. Dan di beberapa titik, tidak ada lagi sisa aspal maupun lapisan kerikil, tinggal jalan tanah saja yang jika hujan akan jadi kubangan lumpur. Continue reading Jalur Sutera yang Sekarang Jadi Remukan Peyek

Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga

Candi-candi atau situs peninggalan yang berada di Dataran Tinggi Dieng selalu menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjunginya. Apalagi kalau bukan mistisisme bangunan-bangunan tua dan bersejarah tersebut saat tesamar kabut menjelang senja dengan latar berupa lereng pegunungan tua. Ditambah udara yang dingin, perasaan juga akan terbawa suasana ini, mistis dan gloomy.

 Candi Arjuna, Dieng
Tapi Dieng tidak melulu soal Candi Arjuna nya saja, juga Telaga Warna, ataupun kawah-kawahnya. Beberapa tahun belakangan, puncak-puncak di Dieng yang juga menjadi penyangga bagi keberadaan dataran tinggi Dieng menjadi ramai. Dan yang paling banyak dikunjungi, tentu saja puncak Prau. Puncak paling tinggi di dataran tinggi tersebut.

Continue reading Gunung Prau; Tidak Hanya SPBU yang Antri, Gunung Juga